Mengapa sih kebiasaan ini merupakan kunci komunikasi? Karena, kebutuhan paling dalam dari hati manusia adalah dipahami. Semua orang ingin dihormati dan dihargai apa adanya – individu yang unik, yang Cuma satu-satunya, yang tidak mungkin dikloning (setidaknya untuk sekarang ini).
Orang
takkan mengungkapkan isi hatinya kecuali merasakan kasih serta
pengertian yang tulus. Tetapi begitu mereka merasakannya mereka akan
menceritakan lebih dari yang mungkin ingin kamu dengar. Kisah berikutnya
tentang seorang cewek yang mengidap kelainan makan menunjukkan kuasa
pengertian:
Saya
sudah lama menderita kelainan makanan ketika ketemu sama Juni, Dera dan
Novi, rekan-rekan satu kamar di kampus. Selama dua tahun terakhir saya
telah berkonsentrasi untuk berolah raga, dan merayakan setiap ons berat
badan yang berkurang. Di usia delapan belas dengan tinggi 175
sentimeter, berat badan saya cuma 45 kilo gram, tulang belulang yang
jangkung.
Saya
tidak punya banyak teman. Terus-terusan menderita kelainan makan itu
membuat saya cepat tersinggung, pendendam, dan begitu letihnya
sampai-sampai ngobrol santai pun tidak bisa. Acara-acara sosial sekolah
sih tidak mungkin deh. Rasanya, tak ada deh kesamaan saya dengan
anak-anak lain yang saya kenal. Ada beberapa teman setia yang sungguh
tahan sama dengan saya dan berusaha menolong, tetapi saya tidak mau
mendengarkan kuliah mereka tentang badan saya dan mengatai mereka
cemburu.
Orang
tua saya menyogok saya dengan lemari pakaian baru. Mereka menuntut saya
agar saya makan di depan mereka, kalau saya tidak mau, mereka seret
saya ke berbagai dokter, ahli terapi, dan spesialis. Saya sengsara dan
ddan yakin seluruh hidup saya akan menderita seperti itu.
Lalu
saya pindah kuliah. saat itulah saya jadi sekamar dengan Juni, Dera,
dan Novi, tiga cewek yang membuat hidup saya layak dijalani lagi.
Kami
tinggal di apartemen mungil, di mana semua pola makan serta olahraga
saya yang aneh adalah di udara terbuka. Saya tahu pasti mereka
menganggap saya aneh. Kalau liat foto saya ketika berusia delapan belas
tahun, saya ngeri sendiri jadinya.
Tetapi
mereka tidak memperlakukan saya seperti orang bermasalah. Mereka tidak
menguliahi saya, tidak memaksa saya makan, tidak bergosip, tidak adu
kuat. Saya hampir tidak tahu harus berbuat apa.
Hampir
seketika itu juga, saya meresa seperti salah seorang dari mereka,
kecuali bahwa saya tidak makan. Kami mengikuti pelajaran sama-sama,
mendapatkan pekerjaan, jogging di waktu sere, nonton televisi, dan
mejeng di hari Sabtu. Untuk pertama kalinya, kelainan makan saya tidak
menjadi topik percakapan. Kami malah banyak membicarakan keluarga,
ambisi, serta ketidakpastian kami.
Saya
sungguh takjub pada kesamaan kami. Untuk pertama kalinya dalam
bertahun-tahun, saya merasa dipahami. Saya merasa seseorang mau
meluangkan waktu untuk memahami saya ketimbang selalu berusaha
membereskan masalah saya dulu. Bagi cewek-cewek ini seperti yang lain.
Sementara
rasa memiliki saya tumbuh, saya pun mulai memerhatikan mereka. Mereka
bahagia, menarik, cerdas, dan sesekali mereka makan kue langsung dari
tempatnya. Kalau begitu saya punya begitu banyak kesamaan dari mereka,
kenapa saya tidak makan tiga kali sehari juga?
Dera,
Juni, dan Novi tidak pernah memberitahu saya bagaimana caranya supaya
sembuh. Mereka hanya memperlihatkannya setiap hari, dan mereka sungguh
berusaha memahami saya sebelum berusaha menyebuhkan saya. Di akhir
semester pertama saya di kampus, mereka mengajak saya makan malam. Dan
saya merasa disambut.
Bayangkan pengaruh cewek-cewek ini karena mereka berusaha memahami temannya dulu ketimbang menghakiminya. Menarik bukan bahwa begitu seseorang merasa dipahami dan tidak dihakimi, ia langsung membuka diri terhadap pengaruh? Bayangkan bagaimana jadinya kalau saja rekan-rekan sekamarnya itu berusaha menguliahinya.
Pernahkah kamu dengar pepatah "Orang tidak peduli seberapa banyak yang kamu ketahui hingga mereka yakin kamu peduli?" Alangkah benarnya itu. Bayangkan situasi ketika seseorang tidak mau meluangkan waktu untuk memahami kamu atau mendengarkan kamu. Apakah kamu terbuka terhadap apa yang ia sampaikan?
Kamu bisa menunjukkan kamu peduli hanya dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan tanpa memberikan nasehat. Sajak singkat berikut mengilustrasikan betapa manusia butuh didengarkan.
BACA JUGA:
Dengarkanlah
Kalau aku minta kamu dengarkan,
dan kamu malah menasihati aku,
kamu tidak memberikan apa yang kuminta.
Kalau aku minta kamu dengarkan,
dan kamu malah mengatakan mengapa
aku seharusnya aku tidak seperti itu,
kamu menginjak-injak perasaanku.
Kalau aku minta kamu dengarkan,
dan kamu malah merasa punya
sesuatu untuk mengatasi masalahku,
walaupun tampaknya aneh,
kamu sungguh mengecewakan aku.
Dengarkanlah!! Yang kuminta hanyalah agar
kamu mendengarkan. Jangan bicara
atau berbuat - dengarkan saja.
3 komentar:
Saya mengikuti terus artikel dalam blog ini, makin beragam dan menarik kontennya. Sukses terus gan. Saran nih, akan lebih bagus lagi kalau blognya diupgrade pake LTD. Sukses bro👏👍
mendengarkan lah sebelum berbicara, bicaralah menurut apa yang kau dengar...
bagus puisinya
mendengarkan lah sebelum berbicara, bicaralah menurut apa yang kau dengar...
bagus puisinya
Post a Comment