Cerpen dan Puisi

Mendengar Dan Memahami, Kunci Dalam Komunikasi

Kamu bisa menunjukkan kamu peduli hanya dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan tanpa memberikan nasehat

Undang-undang PPHI Jurang Bagi Kaum Buruh

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 dan undang-undang No. 2 Tahun 2004 sebagai buah kompromi politik di parlemen sudah pasti saran juga dengan kepentingan politik

Rentenir, Setan Kapitalisme Di Pabrik

Kaum buruh adalah mangsa empuk bagi lintah darat. Upah yang minim dan kebutuhan hidup yang tidak sebanding dengan besaran upah menyebabkan banyak buruh pada akhirnya dengan terpaksa menyerahkan batang lehernya kepada lintah darat

Mengetahui Hak-Hak Normatif Buruh

Hak normatif buruh adalah hak dasar buruh dalam hubungan kerja yang dilindungi dan dijamin dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku

Gerakan Buruh Adalah Perjuangan sejati Menuju Perubahan

Saat ini hanya serikat buruh sejatilah yang tetap konsisten dalam berjuang melawan ketidakadilan. Janji-janji busuk dan kebijakan-kebijakan populis tak mampu membeli idealisme kaum buruh

Showing posts with label Cerpen dan Puisi. Show all posts
Showing posts with label Cerpen dan Puisi. Show all posts

Monday, 1 April 2019

Sarimin Tak Lagi Pergi ke Pasar

Sarimin Tak Lagi Pergi ke Pasar
Joko Sumantri (1978-2014)
Panas menerpa. Seakan-akan menembus atap bus kota dan memanggang seisi penumpang di dalamnya. Jika bus kota berhenti buat menanti penumpang (dan ini agak sering), maka panas terasa seperti kompor yang dinaikkan sumbunya. Orang-orang yang bolak-balik menaiki bus kota di siang hari, seperti aku yang kebagian masuk kerja di siang hari, mesti berkompromi. Agar panas di luaran tak sampai masuk ke dalam otak dan mendidihkan pikiran.
Untung tak banyak kursi terisi. Bus-bus kota mulai kehilangan penumpang semenjak banyak orang memiliki sepeda motor. Di bus kota yang saat ini kutumpangi saja tak ada setengah kursi yang terisi. Dan akibatnya begini. Penumpang yang jarang bikin bus kota tambah kerap berhenti. Berharap ada saja orang yang mau naik.
Biasanya aku sangu buku menghabiskan waktu dan kesempatan. Tapi hari ini tidak. Karena sedikit terburu-buru, novel atau kumpulan cerpen jadi tak terbawa. Melamunlah aku. Memandang kosong pada lalu-lalang orang dan kendaraan. Jalan-jalan aspal kelihatan berkilau oleh terpaan sinar matahari. Menciptakan halusinasi air. Bagai di gurun saja.
Mataku terantuk pada sosok lelaki tua yang memikul beban klenengan, bermacam benda tak lazim dan seekor monyet yang duduk di salah satu ujung pikulan. Di lehernya tergantung sebiji radiotip butut. Sebuah aki juga tergantung di pikulannya itu sehingga menambah berat beban pada pundaknya. Dia kepayahan betul. Terlihat tua dan lelah, menerjang udara menyengat.
Dia, tukang topeng monyet itu, hanyalah panorama. Orang sekelebatan melihatnya dan kemudian melupakan begitu saja. Seakan-akan lelaki tua itu tak pernah ada. Tak ada perbedaan antara jika dia hadir maupun tak hadir dalam bola mata kita. Aku pun sepertinya hendak begitu. Merasa kasihan padanya, namun rasa kasihan itu toh sekedar iba. Aku memperhatikannya karena menarik dan kontras di antara mozaik pemandangan sebuah perempatan kota yang semrawut. Tapi tak ada apa-apa setelah itu. Setelah bus kota akhirnya merasa putus asa menunggu penumpang dan lalu kabur menjajah jalan.
Tapi tidak. Bus kota memang berjalan lambat, namun ada sedikit keributan. Lelaki tua tukang topeng monyet itu ternyata naik ke bus kota yang kutumpangi. Pikulannya bikin repot dan dapat berayun mengenai kepala seseorang. Sang kenek membantu. Lelaki tua itu terlihat bingung dan lega sekaligus. Lalu dia menuju ke belakang. Ke jajaran bangku panjang yang memang lebih lowong. Dan aku sedang duduk di sana, di bagian pinggir di bibir pintu.
Rasanya sedikit menakjubkan. Lelaki tua itu baru saja memenuhi pikiran ketika melihatnya kepayahan di seberang perempatan. Kini dia benar-benar ada di sampingku. Aku tergelak sendiri. Apa ini yang disebut takdir kecil-kecilan?
Dengan sudut mataku kuperhatikan dia, juga monyetnya. Monyet itu ditaruh di pundak persis Si Buta dari Gua Hantu. Kepalanya bergerak ke sana kemari. Mungkin sedikit kebingungan atau memang karena dia seekor monyet. Tak ada monyet yang kepalanya diam saja kecuali lagi sakit.
Ketakjuban pada takdir kecil-kecilan ini membuatku terus memperhatikannya. Dia mengambil sebatang rokok sigaret yang terselip di saku baju. Lalu tangannya bergerak-gerak menjelajahi kantong celana. Mencari korek, tapi tak ada. Dia memandangku tiba-tiba dan bikin aku terkesiap.
“Ada korek, Mas?” tanyanya sambil menyentuh pundakku. Aku tergeragap. Kontan kuambil korek di tas. Cepat-cepat kuberikan pada lelaki tua itu. Asap rokok pun segera terhembus dari mulut tuanya. Asap dari rokok tanpa merek.
“Rokok, Mas?” ujar lelaki tua itu memberi tawaran sewaktu mengembalikan korek. Aku menggeleng. Kuambil sendiri rokok di tas dan menyulutnya. Jadilah ruang dalam bus kota bagaikan perapian.
Rokok yang kuhisap jelas lebih enak. Tapi ekspresi yang kulihat pada lelaki tua itu menunjukkan sebaliknya. Dia merokok seperti seminggu tak merokok sama sekali. Matanya terpejam sewaktu menghisap dalam-dalam, lalu terbuka ketika menghembuskannya. Sementara dalam beberapa hisapan, rokok dalam mulutku bagai menjelma arang. Segera saja kumatikan dan kubuang ke jalanan.
“Kenapa, Mas? Masih panjang begitu kok dibuang. Lagi banyak pikiran?” ujar lelaki tua itu lagi.

Tuesday, 26 March 2019

Mendengar Dan Memahami, Kunci Dalam Komunikasi

Kunci Dalam Komunikasi

Mengapa sih kebiasaan ini merupakan kunci komunikasi? Karena, kebutuhan paling dalam dari hati manusia adalah dipahami. Semua orang ingin dihormati dan dihargai apa adanya – individu yang unik, yang Cuma satu-satunya, yang tidak mungkin dikloning (setidaknya untuk sekarang ini).

Orang takkan mengungkapkan isi hatinya kecuali merasakan kasih serta pengertian yang tulus. Tetapi begitu mereka merasakannya mereka akan menceritakan lebih dari yang mungkin ingin kamu dengar. Kisah berikutnya tentang seorang cewek yang mengidap kelainan makan menunjukkan kuasa pengertian:

Saya sudah lama menderita kelainan makanan ketika ketemu sama Juni, Dera dan Novi, rekan-rekan satu kamar di kampus. Selama dua tahun terakhir saya telah berkonsentrasi untuk berolah raga, dan merayakan setiap ons berat badan yang berkurang. Di usia delapan belas dengan tinggi 175 sentimeter, berat badan saya cuma 45 kilo gram, tulang belulang yang jangkung.

Saya tidak punya banyak teman. Terus-terusan menderita kelainan makan itu membuat saya cepat tersinggung, pendendam, dan begitu letihnya sampai-sampai ngobrol santai pun tidak bisa. Acara-acara sosial sekolah sih tidak mungkin deh. Rasanya, tak ada deh kesamaan saya dengan anak-anak lain yang saya kenal. Ada beberapa teman setia yang sungguh tahan sama dengan saya dan berusaha menolong, tetapi saya tidak mau mendengarkan kuliah mereka tentang badan saya dan mengatai mereka cemburu.

Orang tua saya menyogok saya dengan lemari pakaian baru. Mereka menuntut saya agar saya makan di depan mereka, kalau saya tidak mau, mereka seret saya ke berbagai dokter, ahli terapi, dan spesialis. Saya sengsara dan ddan yakin seluruh hidup saya akan menderita seperti itu.

Lalu saya pindah kuliah. saat itulah saya jadi sekamar dengan Juni, Dera, dan Novi, tiga cewek yang membuat hidup saya layak dijalani lagi.

Kami tinggal di apartemen mungil, di mana semua pola makan serta olahraga saya yang aneh adalah di udara terbuka. Saya tahu pasti mereka menganggap saya aneh. Kalau liat foto saya ketika berusia delapan belas tahun, saya ngeri sendiri jadinya.

Tetapi mereka tidak memperlakukan saya seperti orang bermasalah. Mereka tidak menguliahi saya, tidak memaksa saya makan, tidak bergosip, tidak adu kuat. Saya hampir tidak tahu harus berbuat apa.

Dengarkanlah Dulu, Baru Bicara

Belajar Mendengar

Katakanlah kamu masuk toko sepatu dan ingin membeli sepatu baru. Penjaga toko bertanya, "Sepatu apa yang kamu cari?"

"Saya cari sepatu yang..."
"Saya tahu deh yang kamu cari," modelnya. "Semua orang pakai yang ini nih. Percaya deh."

Buru-buru ia mengambil sepasang sepatu yang paling jelek yang pernah kamu lihat. "Coba nih lihat,” katanya.

"Saya tidak suka ah,”

"Semua orang suka kok. Ini yang paling laku sekarang ini.”

"Saya cari yang lain ah.”

"Saya janji deh kamu pasti suka.”

Tetapi saya...."

"Begini. Saya kan sudah sepuluh tahun jualan sepatu dan saya tahu sepatu yang bagus hanya dengan sekali lihat.”

Setelah pengalaman tersebut, apa kamu mau kasuk ke toko itu lagi? Pasti tidak kan. Mana mungkin kamu percaya orang yang memberimu solusi sebelum memahami apa kebutuhanmu. Tetapi tahu tidak, bahwa kita pun sering begitu kalau berkomunikasi?

"Hei Melissa, apa kabar? Kamu kok kelihatannya depresi sih. Ada masalah?"

"Kamu gak bakal ngerti deh, Colleen. Pasti kamu menganggapnya tolol.”

"Enggak deh. Cerita dong. Aku dengerin deh.”

"Ah, nggak tau deh."

"Ayolah. Ceritalah.”

"Ya deh... em ... aku sama Boy udah nggak seperti dulu lagi.”

Monday, 25 March 2019

Alumnus (Alumni Belum Lulus)

 Alumnus (Alumni Belum Lulus)

Oleh: Hesti Sitepu

“Aku malas belajar loh kak, aku mau main!” ujar bocah yang hari ini punya jadwal belajar dengan saya dengan nada bergetar menahan tangis.

Ini adalah gambaran dari salah satu siswa kelas 3 SD di sebuah sekolah “mahal” di salah satu kota di negeri ini Selama dua bulan terakhir, ia belajar privat dengan saya empat hari dalam seminggu. Dan selama dua bulan itu saya berusaha membuat ia senang belajar karena ia sangat benci belajar.

Itulah salah satu gambaran siswa di negeri ini. Belum lagi, fakta ada kurang lebih 630 ribu sarjana lulusan S1 yang menganggur. Para sarjana itu merupakan alumni dari berbagai kampus yang ada di Indonesia. Miris memang, namun inilah potret pendidikan kita yang fokus pada hasil (jumlah) dari pada kualitas (prestasi) sehingga ada begitu banyak alumni (sudah tamat kuliah) namun ternyata belum lulus (siap) berkarya di negeri ini.

Kondisi alumni ini, tentu terjadi akibat dari sistem pendidikan yang ada. Setidaknya ada tiga alasan yang kita lihat dari sistem pendidikan di negeri ini.

Pertama, pendidikan di negeri ini cenderung memaksa. Hal sangat terlihat dimasa saya SD pada tahun 90an, pada masa itu hampir semua guru mata pelajaran menekankan agar menghapal materi. Mulai dari matematika hingga olahraga. Kebanyakan sekolah seperti rumah hapalan.

Monday, 26 March 2018

10 Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Menulis Cerita Pendek

10 Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Menulis Cerita Pendek

Pada dasarnya, semua orang memiliki kemampuan menulis. Namun tingkat kemampuan menulis seseorang tersebut sangat tergantung pada bakat, kemauan, serta minat untuk belajar dan mengembangkan kemampuan menulisnya. Begitu juga dengan menulis cerpen atau cerita pendek.

Cerpen atau dapat disebut juga dengan cerita pendek merupakan suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerpen cenderung singkat, padat, dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella dan novel. Yang jelas, karakteristik utama cerpen adalah pendek dan singkat. Di dalam cerita yang singkat itu, tentu saja tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, bisa jadi hanya seorang, atau bisa juga sampai sekitar empat orang paling banyak. Itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh itu diungkapkan di dalam cerita. Fokus atau, pusat perhatian, di dalam cerita itu pun hanya satu. Konfliknya pun hanya satu, dan ketika cerita itu dimulai, konflik itu sudah hadir di situ. Tinggal bagaimana menyelesaikan saja.

Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis cerita pendek:

1. Tetaplah Fokus

Salah satu alasan mengapa cerita pendek gagal adalah penulis mencoba menjejalkan terlalu banyak ke dalamnya. Idealnya memiliki ide yang kuat dan keseluruhan ceritanya harus berputar di sekitar itu.

2. Sadarilah Jumlah Kata

Sebuah cerita pendek sekitar 1500 kata bisa mengikuti format "
punchline", dengan perkembangan yang lambat melalui narasi dan berakhir dalam putaran mendadak. Bagian yang lebih lama memiliki waktu untuk pengembangan lebih lanjut dan memungkinkan penulis menulis cerita yang lebih rumit.

3. Jangan Menambahkan Karakter Terlalu Banyak

Pembaca akan terasa sulit untuk terlibat di dalam cerita, bilamana karakter terlalu banyak. Menambahkan karakter terlalu banyak berarti penulis harus menyebarkan usaha ke lebih banyak tubuh.

4. Menjaga Kecepatan

Seorang pembaca mungkin hanya melihat ceritamu untuk mencicipi hiburan yang cepat, dan jika penulis mulai menyeret semuanya dan memperlambat laju, pembaca mungkin akan bosan. Namun, tidak semua cerita bisa dikemas dengan baik, dan tidak masalah untuk membangun, tapi ingat untuk menahan ketegangan.

5. Jangan Takut Untuk Menulis Ulang

Menulis ulang seluruh cerita pendek mungkin hanya memakan waktu beberapa jam. Bahkan mungkin memilih untuk menulis beberapa versi yang berbeda, menceritakan kisahnya dengan cara yang berbeda.

6. Menggaet Pembaca

Terbuka dengan kalimat tajam yang menarik, sesuatu yang menimbulkan pertanyaan dan membuat pembaca ingin tahu lebih banyak.

7. Mengembangkan Suara Narratif

Membuat nada yang tepat untuk sebuah cerita pendek akan membantu untuk melibatkan pembaca. Dalam ruang yang singkat, cerita memerlukan sesuatu yang istimewa untuk memberi dampak pada pembaca, dan suara naratif yang kuat yang menyelimuti cerita akan memberi mereka sesuatu untuk diingat.

8. Tambahkan Konflik

Gagasan yang berguna dalam tulisan apa pun, mengenalkan konflik akan menciptakan ketegangan dan membantu menarik pembaca ke dalam cerita.

9. Penggunaan Dialog Yang Baik

Dialog yang ditulis dengan baik menggerakkan ceritanya jauh lebih cepat daripada penjelasan paragraf. Tapi jangan hanya memikirkan apa yang dikatakan karakter, tapi juga bagaimana mereka mengatakannya.

10. Bekerja Keras di Akhir Cerita

Penulis harus bekerja keras memilih untuk mengakhiri cerita dengan baik dan sesuai dengan nada dan gaya ceritanya. Mengakhiri sebuah cerita pendek adalah apa yang akan melekat pada pembaca.

Tuesday, 24 January 2017

KASBI Nonton Bareng Film Widji Tukul

KASBI Nonton Bareng Film Widji Tukul
Seru! Di hari Minggu, 22 Januari 2017 Taman Ismail Marzuki (TIM) memerah seketika. Satu ruangan studio gedung bioskop dijejali sekelompok buruh berseragam kompak. Tulisan di bajunya KASBI. Dari Tangerang (Banten), DKI Jakarta, Bekasi, Karawang hingga Bandung Raya. Hanya ada satu kata, "Nobar"

"Istirahatlah Kata-Kata". Film berdurasi puluhan menit ini mengangkat kembali kisah sesosok manusia. Kurusnya mirip Presiden Republik Indonesia. Asalnya, sama-sama dari kota Bengawan. Hanya terpaut kelurahan saja. Tukul dari kecamatan Jebres Solo, Jokowi dari Mojosongo.

Sanggar Suka Banjir di daerah Jagalan, adalah dedikasinya selama menghimpun warga dan anak-anak. Bergelut di daerah rawan banjir. Pasalnya, hanya beberapa ratus meter saja dari rumah pribadi Walikota Solo saat ini, Pak Rudi. Di area Pucangsawit. Namun nasiblah yang membedakan orang-orang terkenal ini. Meski berasal dari kota yang terkenal Batik, dan lagu legendaris Sang Maestro Keroncong, berjudul Bengawan Solo. Karya Mbah Gesang!

Tukul terlahir dari lingkungan kemiskinan. Besar di rezim otoriter orde baru. Menjadi Penyair kenamaan yang kerap dicerca sana-sini. Maklum, Widji Tukul memilih budaya perlawanan. Sementara Presiden Republik Indonesia, berhasil lulus fakultas Kehutanan UGM. Berbisnis Meubel. Dan menjadi Presiden. Yang sebelumnya pernah memimpin Solo sejak tahun 2005. Kehidupan Tukul amat sulit. Seorang istri dan dua orang anaknya kini telah menjadi dewasa, dan bercucu. Namun Tukul tak pernah merasakan hidup sebagai kakek dan menimang-nimang cucunya! Kalau saya ingat-ingat, Desember 1997, adalah waktu terakhir Sang Penyair bertegur sapa dengan orang-orang kepercayaannya, saat itu di kota kelahirannya. Selepas bulan itu. Sosoknya amblas ditelan waktu. Kalau mau dihitung ulang. Tahun ini genap 20 tahun.

Sajak-sajaknya menggema di seantero nusantara. Di belahan Eropa, karyanya sempat dibacakan dan dibincangkan banyak orang. "Bunga dan Tembok", atau "Peringatan" misalnya, jika dibacakan siapa saja, karya ini akan membawa pendengar dan audiens terbang ke alam perjuangan. Mau di gedung kesenian, dan sasana budaya, teater, di atas mobil komando, dan pangung-panggung perlawanan rakyat. Sebab, karya ini akan semakin hidup dan menemukan jiwa korsanya! Kiri dan revolusioner. Inilah sosok Widji Tukul yang sebenarnya. Tak ada karyanya yang tidak bernalar perjuangan. Dan keberpihakan teehadap kaum tertindas. Utamanya kaum buruh dan tani. Ia dikenal sebagai penyair cum aktifis. Partai Rakyat Demokratik (PRD) pernah menjadi pilihan organisasinya dalam berjuang. Bersama buruh dan petani, Tukul memilih jalan terjal dan berliku. Melawan seluruh sendi-sendi kapitalisme, rejim otoriter Soeharto, dan kekejaman aparat negara kala itu.

Konon Presiden Republik Indonesia ke Tujuh ini amat menaruh apresiasi. Bahasa kerennya, "nge-fans berat".

Tukul kini hanya bisa ditemukan lewat karyanya. Dan kehangatan berbincang bersama istrinya, Yu Pon. Dan anak putra putrinya. Fajar Merah dan Nganti Wani. Kira-kira 15 tahun yang lalu. Saya bersama seorang kawan penulis kesohor waktu itu, Alm. Joko Sumantri sempat adakan festival kecil-kecilan. Di tingkat kelurahan Jagalan. Lomba baca sajak, deklamasi dan puisi. Nganti Wani, masih sekolah, seumuran remaja. Dan sejak kami sadari kala itu, Wani adalah keturunan Tukul yang memiliki potensi dan darah seni menjadi Penyair. Mendengarkan Wani saat itu, terngiang dengarkan intonasi suara, gaya khas Tukul membaca sajak-sajak perlawanannya. Jelas. Wani menyabet gelar juara pertama di hari itu. Bukan karena kami merasa dekat saja. Namun, memang pantas seorang Nganti Wani mendapati predikat tersebut.

Ach.. Alam pikir ku malah melayang ke lompatan peristiwa lampau jadinya. Padahal beberapa kawan-kawan ku kini, masih berduduk-duduk dan mulai berpamitan satu sama lainnya.

Siang hingga jelas malam ini, kaum MUDA, BERANI, MILITAN dari Serikat Buruh Anggota KASBI buktikan keberpihakannya untuk sebuah inspirasi dan sosok pejuang tangguh di masa orde baru. Meskipun Tukul tak bersama kita, namun kiprah, semangat, sisi kemanusiaannya akan tetap kekal selama-lamanya.

KASBI Nonton Bareng Film Widji Tukul

KASBI Nonton Bareng Film Widji Tukul

Indonesia telah kehilangan Widji Tukul. Tapi Indonesia tidak boleh lagi alami penghilangan paksa. Orang-orang yang memiliki akal sehat. Keberpihakan orang-orang yang berjiwa besar untuk kebebasan, kedaulatan, kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat, bangsa dan negaranya. Widji Tukul, akan selalu di dada kaum pejuang rakyat. Widji Tukul tak akan pernah hilang dari ingatan!
Negara berhutang nyawa!

Selamatkan Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat Indonesia!
Salam MUDA, BERANI, MILITAN!

Oleh: Kelompok Bunga Merah (Eka)

Sunday, 18 January 2015

Gara-Gara Game

Gara Gara Game

Bagi Dimas, tak ada yang lebih menarik di dunia ini selain game. Segala yang terlihat – HP, komputer, laptop, teve, apalagi tablet – adalah game. Benda-benda itu menarik hatinya lantaran bisa dimainkan sebagai game, meskipun kegunaan sebenarnya bukan untuk itu.

Karena itu, dia sering curi-curi kesempatan menggunakan HP ayah atau ibunya. Jika benda itu tak sengaja tergeletak di atas kulkas, sementara ibu atau ayah sedang beraktivitas lain, tangannya bergerak cepat meraih benda itu. Setelahnya, dia menghilang, mojok di kamar sambil menggulung tubuhnya dengan selimut.

Tak lama kemudian akan ada sedikit keributan saat ayah atau ibu mencari-cari HP-nya. Setelah di-misscall berkali-kali barulah ketahuan Dimas yang menyalahgunakan HP itu.

”Dimas, Ibu selalu bilang HP itu sering diperlukan, bukannya buat mainan. Kalau ada panggilan penting tapi nggak keangkat gara-gara kepake game, bisa berabe nanti...,” hardik ibu. Dimas pun nyengir.

Gaya ayah berbeda. Dia akan langsung merebut HP di tangan Dimas tanpa basa-basi.

Toh, hardikan-hardikan itu tak mempan. Sampai akhirnya HP milik ibu rusak akibat kelamaan dipake nge-game. Entah kenapa, HP ibu mati benar-benar. Di-charge berkali-kali pun tak bisa nyala lagi.

Ibu Dimas hanya bisa mengelus dada. Begitu sayangnya dia pada Dimas sampai-sampai tak mau menampar atau sekedar mencubit lengannya. Ibu hanya berucap demikian memelas, “Dimas, itu HP dibeli mahal-mahal kamu rusakin begitu saja. Mau beli lagi mesti nunggu Ayah gajian. Tega kamu, Nak....”

Pada saat itu, tentu saja Dimas ikut menyesal. Namun beberapa hari kemudian, penyesalan memudar seiring kegemarannya pada game yang semakin kuat.

Kegembiraan terbit saat Bibi Tri membelikannya PSP, biarpun PSP tiruan alias bikinan China. Rupanya Bibi Tri tak tega keponakan tersayangnya itu terus bermuram durja lantaran tak bisa main game. Sejak saat itu pula, tak ada kesempatan terlewatkan tanpa Dimas bermain game PSP. Di sekolah, di saat pelajaran berlangsung pun, Dimas mencuri-curi waktu bermain PSP. Apalagi di rumah, hanya rasa lapar atau ke WC saja yang menghentikan Dimas bermain PSP. Tidak juga, film-film kartun di televisi masih sanggup membetot perhatian Dimas terhadap PSP, kecuali saat iklan.

Namun akibat kecerobohannya sendiri, PSP miliknya sering jatuh. Charger-nya hilang, sampai benda segenggaman tangan itu tidak bisa dihidupkan lagi. Dunia seakan runtuh bagi Dimas.

* * *

Belum lama berselang, tak jauh dari rumah Dimas, dibukalah sebuah warnet. Jaraknya hanya tiga menit berjalan. Mula-mula Dimas tidak ngeh. Tapi saat seorang teman mengajaknya ke sana, dia pun mengerti ada tempat bermain game yang mengasyikkan. Sayangnya, biaya sewanya lumayan mahal untuk ukuran anak-anak. Biaya jajan sehari bisa habis untuk satu jam saja.

Mula-mula Dimas datang ke warnet melihat-lihat. Dia perhatikan orang yang sedang bermain game online. Kemudian, berbekal uang jajan sehari, dia mencoba bermain sendiri. Seru banget, pekiknya dalam hati.

Sejak saat itu, berpikirlah Dimas bagaimana cara mendapatkan biaya sewa warnet. Beberapa hari dia mengumpulkan uang jajan, namun waktu terasa demikian cepat berlalu saat dirinya bermain game online. Sebanyak apapun uang jajan dikumpulkan seakan demikian cepat habisnya.

Suatu ketika, mata Dimas nanar melihat dompet ayahnya tergeletak begitu saja di atas kulkas. Sebelumnya, dia tak berpikir mengambil uang dalam dompet itu. Rumah lagi sepi. Dengan gemetar, Dimas membuka dompet itu dan menarik duit sepuluh ribuan dari dalamnya. Seketika itu juga dia melompat kesetanan, berlari menuju warnet.

Beberapa kali Dimas mendapatkan kesempatan itu. Sampai suatu hari, di dalam dompet itu hanya ada lembaran uang besar. Dia sempat ragu. Namun suara setan membisikinya bahwa dengan uang besar itu justru bisa lebih lama bermain game online.

Di warnet, Dimas pun menuntaskan kepuasannya. Hingga tiba-tiba sebuah tangan menjewer kupingnya dengan keras.

Cerita oleh Mulyanah

Aku Ingin Menjadi Penyair, Tapi Hanya Untukmu

Tak ada keinginanku
menulis puisi-puisi lalu mengirimkannya
ke koran
Aku hanya ingin menulis puisi untukmu
Dan karenanya, pun menjadi penyair bagimu saja

Kuakui, aku menulis puisi karenamu
Mengambil inspirasi darimu belaka

Aku akan menulis puisi tentang gerai rambutmu
Juga hidungmu yang lucu
Bahkan cara bicara dan kerlingan matamu
Akan kutemukan kata-kata tentangnya
dan membariskannya sebagai puisi

Pula pada ketika kita bertemu
Pada rapat-rapat dan perdebatan
Meski kau dan aku tak bicara
Aku tetap bisa menuangkannya sebagai puisi

Lalu saat kau berjalan membelah barisan
atau waktu kau berteriak menggugah semangat massa
Hopla!
Jadilah puisi-puisi itu

Maka, tak ada alasan bagiku menulis puisi selain untukmu
dan aku pun akan menjadi penyair, tapi hanya untukmu

Karya: Joko Sumantri

Aku Kehabisan Kata-kata Puitis Untukmu

Kehabisan Kata Kata Puitis Untukmu
Kukais-kais dari rubrik puisi di koran-koran, tak juga ketemu
Serangkaian kata puitis yang ingin kupersembahkan untukmu
Ada banyak kata dan kalimat indah nan menggetarkan di puisi-puisi itu
Tapi aku takut kau tak mampu mencernanya
Bukan maksudku mengataimu tak cukup pintar buat memahaminya
Toh, aku pun hanya bisa mengejanya, tak tahu apa maksudnya

Lalu kubuka status di dinding-dinding fesbuk
Ribuan teman yang kebanyakan tak pernah kujumpa
Tetap saja, tak ada kata-kata puitis itu, yang ingin kuberikan padamu
Di sana hanya ada sumpah serapah, caci maki, keluhan dan curhat
Bahkan pada status milik para penyair

Aku ingin terus mencari-carinya, kata-kata puitis itu
Tak ada hal berlebihan jika itu menyangkut dirimu
Tapi kalau setiap penyair membuat puisi hanya untuk dirinya
Di mana pun tempatnya, tak bakalan ketemu puisi-puisi itu
Di segitiga bermuda sekalipun

Puisi-puisi seperti telah kehilangan maknanya sebagai puisi
Aku pun bertanya-tanya
Jika hanya untuk merayu dirimu saja tak bisa
Buat apa puisi-puisi itu ada?

Oalah, di mana lagi aku harus mencari kata-kata puitis untukmu?
Aku butuh kata-kata yang bisa bikin matamu bebinaran
Kalimat tersusun yang memompa udara pada jantungmu
Bait-bait yang mengalirkan sungai rindu di ceruk dadamu
Sebuah puisi, yang membuatmu jatuh cinta padaku

Karya: Joko Sumantri