Sejarah

Mendengar Dan Memahami, Kunci Dalam Komunikasi

Kamu bisa menunjukkan kamu peduli hanya dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan tanpa memberikan nasehat

Undang-undang PPHI Jurang Bagi Kaum Buruh

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 dan undang-undang No. 2 Tahun 2004 sebagai buah kompromi politik di parlemen sudah pasti saran juga dengan kepentingan politik

Rentenir, Setan Kapitalisme Di Pabrik

Kaum buruh adalah mangsa empuk bagi lintah darat. Upah yang minim dan kebutuhan hidup yang tidak sebanding dengan besaran upah menyebabkan banyak buruh pada akhirnya dengan terpaksa menyerahkan batang lehernya kepada lintah darat

Mengetahui Hak-Hak Normatif Buruh

Hak normatif buruh adalah hak dasar buruh dalam hubungan kerja yang dilindungi dan dijamin dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku

Gerakan Buruh Adalah Perjuangan sejati Menuju Perubahan

Saat ini hanya serikat buruh sejatilah yang tetap konsisten dalam berjuang melawan ketidakadilan. Janji-janji busuk dan kebijakan-kebijakan populis tak mampu membeli idealisme kaum buruh

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, 20 January 2019

60 tahun Revolusi Rakyat Kuba: Pelajaran dan Inspirasi

Tuesday, 13 March 2018

Perjuangan Demokratik Berarti Menolak Militerisme

Perjuangan Demokratik Menolak Militerisme
Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu pokok perjuangan demokratik adalah menolak militerisme. Militerisme dalam kehidupan sipil adalah ancaman bagi demokrasi, ancaman bagi perjuangan demokratik rakyat.

Nota kesepahaman TNI-Polri mengembalikan ingatan kita kepada teror kuasa gelap Orde Baru. Rakyat yang menyuarakan tuntutan, petani yang mempertahankan tanahnya dan buruh yang mogok kerja kembali harus berhadapan dengan kekuatan militer. BACA JUGA:
Dari Kesadaran Advokasi Ke Kesadaran Politik
 
Sementara itu, masih saja ada elemen-elemen masyarakat yang mengelu-elukan militer, mendambakan kepemimpinan militer dalam kehidupan masyarakat.
 
Bahkan ada serikat buruh yang saking ahistorisnya, mendukung mantan tentara dalam kontestasi kepemimpinan negara.
 
Sekali lagi, salah satu pokok perjuangan demokratik adalah menolak militerisme. Kalau belum paham juga, nanti akan paham sendiri kalau sepatu tentara sudah menempel di jidat Saudara ketika melakukan unjuk rasa atau sedang mogok kerja. (Ilham Jimbo)

Artikel Menarik Lainnya:
Mengenali Dan Mengatasi Masalah Dalam Organisasi 
Membongkar Dan Memperbaiki Patronase Dalam Organisasi
Galang Kekuatan Buruh, Hadang Pengancam Demokrasi
Outsourcing Dan Masa Depan Buruh Indonesia
Tiga Pilar Perjuangan
Polisi Afrika Itu Berserikat, Beda dengan Polisi Indonesia

Thursday, 11 May 2017

Kenang Perjuangan Marsinah, Perempuan KASBI Sumatera Selatan Bagikan Selebaran dan 1000 Bunga Kepada Masyarakat

Sejak siang hingga sore hari Rabu (10/5) ada aktifitas yang tidak seperti biasanya terjadi di Jalan Lintas Timur Sumatera. Tepatnya di Pasar Jahe, Kabupaten Ogan Komeeing Ilir, Sumatera Selatan, sejumlah ibu - ibu beratribut serba merah tampak menghampiri setiap kendaraan yang lalu lalang sembari membagikan bunga dan selebaran. Di setiap lembaran kertas yang mereka bagikan tertulis: "Matinya Marsinah Jangan Sampai Sia - sia".

Rupanya hal itu dilakukan dalam rangka memperingati kematian Marsinah, seorang buruh perempuan yang mati terbunuh di Tahun 1993 menuntut hak hak nya. Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai ibu ramah tangga. Selain itu juga mereka adalah para pengurus dan anggota serikat buruh yang bekerja di perkebunan kelapa sawit milik PT. Wilmar Group dan PT. Sampoerna Agro.


Bagi mereka, Marsinah adalah sosok pejuang pemberani yang tidak pernah tunduk pada penindasan. Meski beberapa dari mereka tidak bekerja di pabrik layaknya buruh pada umumnya, tapi mereka sadar bahwa mereka adalah korban yang ikut merasakan dampak dari sistem kapitalisme yang hanya menginginkan keuntungan dengan pola pencurian nilai lebih dari tenaga buruhnya.

Tidak hanya itu, semampunya mereka berusaha bercerita dan menjelaskan kepada Masyarakan tentang kisah perjuangan Marsinah dan bagaimana kebringasan penguasa orde baru kala itu. Bahkan mereka juga memberi penjelasan kepada setiap warga masyarakat yang bertanya tentang aktifitas mereka.

Mbak Erna Wati misalnya. Walau dengan terbata - bata karena harus jalan setengah berlari mengimbangi laju truk yang dikendarain sang supir,  dia mengingatkan bahwa buruh harus belajar dari sejarah yang pernah ditorehkan oleh Marsinah dalam perjuangan nya.

"Ada apa ini mbak"? Tanya sang supir truk penasaran sembari mengurangi kecepatan laju kendaraan nya.

"Kami dari serikat buruh KASBI mas. Kami lagi bagiin selebaran Marsinah", sahut Erna.

"Pernah denger sih cuma gimana sih sebenarnya kasus nya Marsinah itu? Katanya dibunuh ya"? Lanjut sang supir yang tidak mau disebut namanya.

"Marsinah itu pejuang buruh perempuan mas. Dulu dia kerja di pabrik arloji, dia hilang waktu sedang mogok nuntut kenaikan upah. Dia diculik, dianiaya bahkan dibunuh di zaman Suharto", Jelas Erna dengan polos dan apa adanya.

"Oke mbak semangat ya, hidup Marsinah! Hidup KASBI"! teriak sang supir menyemangati Erna dan teman - temannya.


Berbeda dengan mbak Erna Wati, Dairy Catur dan Erni justru mengomentari foto Soeharto bertuliskan "Piye Kabare? Enak Jamanku Too" yang tertempel di bagian depan salah satu kendaraan yang melaju pelan karna kondisi jalan yang rusak parah. Bagi mereka, itu adalah bentuk pemutar-balikan fakta sejarah. Meski menurut mereka nasib kaum buruh dan rakyat di era reformasi masih sama bahkan jauh lebih parah dari era orde baru, retapi pemerintahan rezim orde baru dinilai telah meletakan dasar dasar dan menciptakan syarat syarat penindasan dan penghisapan yang dirasakan kaum buruh hingga hari ini.

"Emang enak too mas kalau rakyat kecil bercerita tentang derita dan kemiskinanya ditangkep, dimasukin ke bui, dituduh malawan penguasa"? Kritik Dairy Catur sambil menunjuk foto Soeharto yang sedang melambaikan tangan.

"Sejarah emang udah diputar balik mas sama negara makanya kita harus belajar sejarah yang sebenarnya. Emang yang bangun jalan tol, pelabuhan dan gedung gedung suharto? Kan buruh. Tapi bagaimana nasib buruh nya danbrakyat waktu itu? Nyawa aja murah bener udah kayak kacang", terang Erni menimpali Dary Catur.

Seusai membagikan bunga dan selebaran, pada malam harinya mereka menggelar Renungan Perjuangan Marsinah bersama anggota KASBI Sumsel lainnya. Selain menyanyikan lagu - lagu perjuangan, orasi dan membaca puisi, mereka juga mengadakan pertunjukan teaterikal.

Api semangat perjuangan Marsinah mereka gambarkan lewat seribu lilin dan lampion yang mereka nyalakan. Bendera, poster dan atribut lain yang berjejer di sekitar lokasi menunjukan keseriusan mereka dalam mempersiapkan pelaksanakan acara tersebut.



Marsinah adalah potret bagi pejuang hari ini. Namanya tidak begitu familiar di telinga masyarakat luas layaknya tokoh di cerita sinderela, namun perjuangan nya menjadi inspirasi bagi gerakan rakyat dan buruh yang berlawan di zaman yang super modern saat ini.

"Siapa yang gak kenal Marsinah? Tiap tahun kita mengenang kematiannya. Tidak cukup gandrung saja, tapi menghormati perjuanhan nya, yang berarti belajar dari sejarahnya dan lanjutkan perjuangan nya". Thomas mengingatkan.



Tepat pada tanggal 8 Mei 1993 Marsinah ditemukan di ladang milik seorang petani di desa Nganjuk, Jawa Timur dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Dia diculik, dianiaya dan dibunuh hanya karena menuntut kenaikan upah di pabrik arloji PT Catur Putra Surya tempat ia bekerja disesuaikan dengan Surat Edaran Gubernur KDH Tingkat I, Jawa Timur Nomor 50 Tahun 1992, yaitu Rp. 2.250 atau naik Rp. 550 dari 1.750.

Hingga kini, kematian Marsinah masih misteri. Dalang dan pelaku di balik kematiannya belum tersentuh hukum dan masih menghirup udara. Bebera kali pergantian kekuasaan pemerintahan belum satupun yang berani dan serius mengungkap kasus Marsinah dengan terang dan mengadili para pelakunya. (IB)

Tuesday, 9 May 2017

Marsinah Dan Bunga Bunga Perjuangan

Marsinah Dan Bunga bunga Perjuangan
Malam ini ingatan kaum buruh kembali digedor oleh sosok seorang perempuan yang dibunuh hanya karena uang Rp. 550. Dia bukan penjahat dan bukan pula koruptor. Dia hanya seorang buruh biasa yang pernah bekerja di perusahaan arloji di PT. Catur Putera Surya. 

Marsinah yang kala itu sedang memimpin pemogokan di perusahaan tempat dia bekerja untuk menuntut hak-haknya menjadikan dia sebagai sosok hantu yang paling berbahaya di mata majikan nya. Dia pun mati terbunuh oleh kolaborasi pengusaha dan militer. Tepat malam ini tanggal 8 Mei, 24 Tahun yang lalu Marsinah ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa setelah hilang selama 3 (tiga) hari.


Untuk mengenang kembali gigihnya perjuangan Marsinah, sejak kemarin dan malam ini anggota KASBI di beberapa daerah seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi, Karawang, Subang, Banjar, Garut, Indramayu, Blora, Bandung, Sumatera Selatan dan Surabaya menggelar acara Malam Renungan Perjuangan Marsinah. Acara dikemas dengan perpaduan teaterikal, musikalisasi puisi, orasi perjuangan, doa serta beberapa kegiatan lainnya. 



Ribuan lilin menyala menyinari gambar Marsinah. Membakar api semangat juang mereka yang berjuang hari ini dan yang akan terus berjuang. Sorot dari setiap pasang mata seolah mempertegas kepada kaum penindas bahwa raga Marsinah boleh saja kau bunuh tetapi api perlawan tak bisa kau padamkan.

Acara ini tidak saja bertujuan sekedar melihat kilas balik dari buas dan biadabnya rezim masa itu, tetapi belajar dari keberanian Marsinah, buruh perempuan dalam melawan kesewenang wenangan penguasa dan pemilik modal orde baru yang dibentengi dengan moncong senjata. Marsinah bukan tidak tau betapa murahnya nyawa di tangan militer orde baru. Bahkan di masa masa perjuangan nya, Marsinah sudah banyak melihat dan mencim bau bangkai - bangkai manusia yang tersembunyi di balik karpet kekuasaan. Tetapi itu tak menjadikan dia putus asa dan membungkuk di hadapan penindasan yang dia alami.



Apa yang terjadi dan dialami marsinah begitu pun yang dialami oleh buruh di zaman yang serba modern ini. Mulain dari upah murah, ancaman dan intimidasi, tindakan represif, kriminalisasi, serta pembungkaman terus diwarisi penguasa dari orde baru hingga rezim populis saat ini. Bahkan nasib buruh saat ini jauh lebih menderita dengan sistem kerja kontrak dan uoutsourcing. Belum lagi kebijakan PP 78 dan program pemagangan yang semakin melegalkan ksploitasi terhadap buruh.



Patutlah Marsinah diberi penghormatan yang setinggi-tingginya terhadap apa yang telah ia abdikan atas nama buruh yang ditindas. Yang berarti, terus melanjutkan perjuangan nya dan tak mbiarkan kematian nya menjadi sia - sia. Maka mari memperkuat posisi dalam bingkai persatuan kamu buruh, organisasi buruh atau front perjuangan buruh. Memperluas pengorganisiran dan terus melakukan perjuangan revolusioner hingga kaum buruh meraih kemenangan nya di atas liang kubur kapitalisme. (IB)

Kaum butuh sedunia bersatulah!


Saturday, 6 May 2017

Belajar Dari Ketidakadilan Negara Yang "Adil Dan Beradab"

Pengantar

Sembilan belas tahun rezim orde baru tumbang, enam pemerintah telah silih berganti mengantikan sejak 21 Mei 1998. Namun apa yang terjadi? Orde baru boleh jadi telah tumbang, tapi orde baru “isme” masih terus hadir dalam kehidupan sehari hari di sekitar kita. Rupanya kekuasaan orde baru dan sistemnya selama 32 tahun bukan saja telah mengakar, tetapi juga terlanjur menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem politik, ekonomi, sosial dan kemasyarakatan di Indonesia hingga sekarang.

Meski reformasi hukum lebih kompleks dari sekedar penuntasan pelangaran HAM dan pelaku KKN, namun kedua hal tersebut setidaknya dapat menjadi perameter minmal dalam melihat keberhasilan pemerintahan paska rezim orde baru dalam upaya memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap supremasi hukum.

BACA JUGA:

Kepastian hukum merupakan perlindungan yang yustisiabel terhadap tidakan sewenang wenang, yang berarti seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masa rakyat  mengharapkan adanya kepastian hukum dan pada dasarnya tidak boleh menyimpang (iat justitia  et pereat mudus: meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan). Inilah yang diinginkan kepastian hukum, karena dengan kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib.

Masyarakat juga berharap  manfaat dalam penegakan hukum, jangan sampai hukum justru menimbulkan keresahan di dalam masyarakat. Unsur keadilan harus diperhatikan karena hukum tidak identik dengan keadilan. Hukum bersifat umum dan mengikat setiap orang dan bersifat menyama ratakan. Sebaliknya keadilan justru bersifat subyektif, individualistis dan tidak menyamaratakan.

Mencuplik potongan orasi Munir dalam intro rima ababli –Homicide, “Mereka berebut kuasa, mereka menentang senjata, mereka menembak rakyat, tapi kemudian bersembunyi di balik ketiak kekuasaan. Apakah kita biarkan orang –orang pengecut itu tetap gagah? Saya kira tidak, mereka gagal untuk gagah, mereka hanya ganti baju. Tapi dalam tubuh mereka adalah suatu kehinaan, suatu yang tidak bertanggung jawab, yang mereka akan bayar sampai titik manapun....”

Warisan orde baru salah satu penyebab utama kegagalan proses menuju demokrasi. Di balik kampanye keberhasilan pembangunan, mereka mendapat pujian dunia internasional dan para pakar ekonomi, seperti keberhasilan dalam hal “pemberantasan buta huruf”, swasembada beras”, stabilisasi keamanan untuk dunia investasi” dll. Tapi ternyata pemerintahan otoriter orde baru sebenarnya justru merusak dan menghancurkan berbagai potensi kekuatan demokrasi dan menimbulkan limbah problematik yang bersiffat akut. Keberhasilan pemerintah rezim ordebaru sepertinya lebih dikarenakan keberhasilan aparatus menyembunyikan sampah dan debu dan bangkai di bawah karpet kekuasaan.

Kekayaan hutan dan tambang bumi dikuasai habis untuk menghidupi para kroni kekuasaan. Utang luar negeri yang seharusnya dipakai untuk mensejahterakan rakyat dikorupsi di kalangan keluarga dan kroni dekat rezim otoriter yang berkuasa.

Dan sudah saatnya Pemerintah membuka mata lebar-lebar akan kasus-kasus yang dialami oleh buruh saat ini. Kasus Marsinah, Sum Kuning, Udin, Dietje (Dice), Salim Kancil, Sebastian, Supatmi hanya beberapa dari sekian banyak kasus pelanggaran HAM yang hingga kini pun tidak terselesaikan. Adalah tugas dan perjuangan kita agar ke depan tidak ada lagi kasus-kasus serupa terlupakan begitu saja tanpa proses peradilan. Sudah cukup banyak kasus pelanggaran HAM yang dipeti-es-kan oleh rejim. 

Pemerintah pun harus segera menciptakan Regulasi perundang-undangan secara menyeluruh yang pro terhadap buruh tanpa adanya kepentingan pribadi, sehingga dapat dijadikan payung hukum bagi tegaknya HAM dan demokrasi bagi seluruh rakyat di Indonesia.

Kita hidup untuk berjuang, dan kita berjuang untuk hidup. Kita hidup bukan sekedar hidup, kita hidup untuk mempertahankan hidup itu dengan keberanian sampai jantung berhenti berdenyut. Sejak manusia dilahirkan mulai dengan rengek bayi pertama sampai hembusan nafas terakhir, tak lain merupakan suatu perjuangan. Kadang-kadang menghadapi perjuangan sangat berat menghadapi pertarungan sengit dan pertarungan bisa sengit tapi tidak setiap pertarungan sengit dimahkotai dengan suatu kemenangan. Tujuan hidup, adalah berani mamasuki pertarungan sengit dan sekaligus memenangkan pertarungan sengit itu sendiri. Inilah yang diimpikan oleh setiap pejuang, Inipun impian saya dalam hidup. Tanpa impian, tanpa cita-cita, hidup menjadi tandus: "What wonder of wonders is the living, is life!" 

Bagi kita kaum buruh indonesia jadikan semangat Marsinah, adalah potret pejuang bagi kaum buruh saat ini. Perjuangan  Marsinah, apa yang kaum buruh perjuangkan hingga hari ini. Ingatan Rakyat Indonesia terhadap Marsinah tak akan pernah hilang. Tepat pada hari senin 8 Mei, kematian Marsinah telah menyalakan obor perjuangan kaum buruh di Indonesia, khususnya buruh perempuan. Patutlah, Marsinah diberi penghormatan yang setinggi-tingginya terhadap apa yang telah ia abdikan atas nama buruh yang ditindas.

Marsinah, ia yang berani menentang antek-antek pengusaha Orde Baru saat itu dalam menuntut kenaikan upah hingga berujung pada kematiannya, hendaknya menjadi semangat buat kaum buruh di Indonesia untuk tidak lelah berjuang menuntut apa yang telah menjadi Hak-nya. Matinya Marsinah jangan sampai sia-sia, jangan sampai perjuangannya terlupakan begitu saja.Perlawanannya tetap akan hidup dalam setiap teriakan “Hidup Buruh Yang Melawan” dan dalam setiap langkah kaum buruh yang masih berjuang sampai hari ini. 

Sudah saatnya buruh mendesak kepada Pemerintah, mengambil sikap tegas atas apa yang sudah dilakukan Pemerintah yang mengesahkan dengan menaikkan harga tarif dasar Listrik per- 1 Mei kemarin, dan kepada para Pengusaha nakal yang melakukan tekanan, intimidasi, repsesif, union busting (pemberhangusan serikat buruh), serta penangguhan upah, dan kemudian yang membiarkan pelecehan seksual terjadi di lingkungan pabrik, bahkan melakukan PHK sepihak terhadap buruh-Nya.

Pemerintah harus berani membuka ulang kasus Marsinah dan sejumlah kasus pelanggaran HAM lainnya atas nama demokrasi dan HAM. Hilang dan matinya Marsinah sudah barang tentu adalah sesuatu yang “Direkayasa” sehingga sampai saat ini kasusnya tidak pernah menemui titik terang. Pertanyaan yang muncul kemudian : “Apakah Pemerintah yang sekarang ini mau membuka kembali kasus ini, agar Keadilan dapat ditegakkan?”, sebab Keadilan yang tertinggi adalah Keadilan terhadap Hak Asasi Manusia.

Ini adalah satu-satunya jalan supaya kasus Marsinah tidak berlalu begitu saja, sementara sang pelaku masih bebas berkeliaran. Setelah merenungi Kisah kisah kehidupan dan ketidakadilan, masihkah ada di antara kita yang merasa kangen dengan indahnya dipimpin rejim? Mereka yang membina moral anaknya saja tidak becus, tapi dipercaya mengontrol moral bangsa.

Mengutip surat che  :

“Tumbuhlah kalian sebagai revolusioner yang baik. Belajarlah yang tekun hingga kalian dapat menguasai teknologi, yang akan memungkinkan kalian menguasai alam. Camkan bahwa revolusilah hal yang pokok, dan masing-masing dari kita, seorang diri, tak akan ada artinya. Di atas segalanya, kembangkan selalu perasaan yang dalam pada siapapun yang mengalami ketidakadilan, dimanapun didunia ini. Inilah kualitas yang paling indah dari seorang revolusioner. Hingga kapanpun juga,...”

Untuk memberi gambaran umun tentang judul di atas, berikut disajikan uraian fakta beberapa kasus misterius yang terjadi di rezim orde baru dan beberapa di era reformasi. Dirangkum dari beberapa sumber untuk keperluan diskusi dan bacaan:

1. Sum Kuning

Potret pejuang bagi masyarakyat dan kaum buruh saat ini. Dalam penegakan supremasi hukum, ingatan Rakyat Indonesia terhadap  tragedi SUM KUNING. Ini adalah kasus getir dan pahit dari seorang gadis muda bernama Sumarijem, seorang gadis muda dari kelas bawah, seorang penjual telur dari Godean Yogyakarta yang diperkosa oleh segerombolan anak pejabat dan orang terpandang di kota Yogyakarta kala itu. Kasus ini merebak menjadi berita besar ketika pihak penegak hukum terkesan mengalami kesulitan untuk membongkar kasusnya hingga tuntas. Pertama-tama Sum Kuning disuap agar tidak melaporkan kasus ini kepada polisi. Belakangan oleh polisi tuduhan Sum Kuning dinyatakan sebagai dusta. Seorang pedagang bakso keliling dijadikan kambing hitam dan dipaksa mengaku sebagai pelakunya. 

Sumarijem yang saat itu berusia 18 tahun tengah menanti bus di pinggir jalan dan tiba-tiba diseret masuk kedalam sebuah mobil oleh beberapa pria. Di dalam mobil Sumarijem (Sum Kuning) diberi bius (Eter) hingga tak sadarkan diri, Ia dibawa ke sebuah rumah di daerah Klaten dan diperkosa bergilir hingga tak sadarkan diri. Sum Kuning ditinggalkan ditepi jalan. Gadis malang ini pun melapor ke polisi. Bukannya dibantu, Sum malah dijadikan tersangka dengan tuduhan membuat laporan palsu. 

Sum Kuning yang baru saja pulih dari perawatan justru dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi. Dia dipaksa mengaku telah berbohong. Dia dianiaya dan diancam akan disetrum jika tidak menurut. Sum juga diminta untuk melucuti pakaiannya agar polisi bisa mencari tato palu arit di tubuhnya. Karena melibatkan anak-anak pejabat yang berpengaruh, Sum malah dituding anggota Gerwani yang berusaha memfitnah tokoh masyarakat. Saat itu memang masa-masanya pemerintah Soeharto gencar menangkapi anggota PKI dan underbouw-nya, termasuk Gerwani. Dalam pengakuannya kepada wartawan, Sum mengaku disuruh mengakui cerita yang berbeda dari versi sebelumnya.

Sum akhirnya diseret ke pengadilan atas tuduhan memberi laporan palsu dan menyebarkan fitnah. Jurnalis yang berusaha memuat berita yang sebenarnya pada diciduk aparat. Dan Jendral Hoegeng, Kapolri paling jujur dalam sejarah NKRI, rela lengser karena tidak mau kompromi dengan lobi para petinggi. 

Kasus Sum disidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Sidang perdana yang ganjil ini tertutup untuk wartawan. Belakangan polisi menghadirkan penjual bakso bernama Trimo. Trimo disebut sebagai pemerkosa Sum. Dalam persidangan Trimo menolak mentah-mentah. Jaksa menuntut Sum penjara tiga bulan dan satu tahun percobaan. Tapi majelis hakim menolak tuntutan itu. Dalam putusan, Hakim Ketua Lamijah Moeljarto menyatakan Sum tak terbukti memberikan keterangan palsu. Karena itu Sum harus dibebaskan. Dalam putusan hakim dibeberkan pula nestapa Sum selama ditahan polisi. Dianiaya, tak diberi obat saat sakit dan dipaksa mengakui berhubungan badan dengan Trimo, sang penjual bakso. Hakim juga membeberkan Trimo dianiaya saat diperiksa polisi. 

Tapi siapakah pelaku pemerkosaan sebenarnya dari Sum Kuning masih menjadi tanda tanya besar sampai saat ini sebab baik Sum Kuning tetap pada pendiriannya bahwa pemerkosanya adalah sekumpulan anak pejabat maupun 10 pemuda anak orang biasa yang diajukan ke pengadilan dan membantah habis-habisan tuduhan yang diajukan kepada mereka dan dijadikan sebagai kambing hitam untuk menutupi para pelaku sebenarnya.

*****
2. Dietje

Diera tahun 1980-an ada seorang peragawati ternama yang cantik bernama Dietje yang bernama lengkap Dietje (Dice) Budimulyono/Dice Budiarsih, ia tewas dibunuh dengan tembakan berulang kali oleh seorang yang ahli dalam menembak, kemudian mayat nya dibuang di sebuah kebun karet dibilangan kalibata yang sekarang menjadi komplek perumahan DPR. Setelah kasus tersebut marak di media massa, polisi akhirnya menangkap seorang tua renta yang nama aslinya tidak diketahui dan hanya dikenal dengan panggilan Pakde, dikenal juga sebagai Muhammad Siradjudin. Konon ia adalah seorang dukun, yang entah dengan alasan dan motif apa yang tidak jelas ia dianggap sebagai pembunuh Dietje. Bagi Polisi motif tidak begitu penting karena polisi mengungkapkan bahwa “katanya” mereka “Memiliki bukti yang kuat”.

Pak De membantah sebagai pembunuh Ditje seperti yang tercantum dalam BAP yang dibuat polisi. Pengakuan itu, menurut Pak De dibuat karena tak tahan disiksa polisi termasuk anaknya yang menderita patah rahang. Ketika itu, Pak De mengajukan alibi bahwa Senin malam ketika pembunuhan terjadi, dia berada di rumah bersama sejumlah rekannya. Saksi-saksi yang meringankan untuk memperkuat alibi saat itu juga hadir di pengadilan. Namun, saksi dan alibi yang meringankan itu tak dihiraukan majelis hakim. Akhirnya Pakde dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. 

Publik saat itu sudah mengetahui rumor bahwa Dietje menjalin hubungan asmara dengan menantu dari orang paling berkuasa di Indonesia saat itu. Dan tentu saja kasus seperti ini tidak akan pernah terungkap dengan benar. Karena pemilik informasi satu-satunya kepada media atau publik berasal dari polisi. Dan bisa jadi, publik digiring dengan sekuat tenaga, untuk ‘meyakini’ bahwa benarlah yang membunuh Dietje adalah Pakde.

Dietje disebutkan dipakai sebagai “Jasa” oleh seorang eks petinggi militer yang terjun ke dunia usaha. Untuk memuluskan bisnisnya, Dietje dipakai oleh sang eks petinggi militer untuk menyenangkan menantu orang paling berkuasa di Indonesia.  Hasil dari jasa Dietje, sang ‘jenderal’ pengusaha mendapat satu kontrak besar pembangunan sebuah bandar udara modern. Tapi hubungan Dietje berlanjut jauh dengan sang menantu. Ketika perselingkuhan itu ‘bocor’ ke keluarga besar, keluar perintah memberi pelajaran kepada Dietje, hanya saja ‘kebablasan’ menjadi suatu pembunuhan. Dietje ditembak di bagian kepala pada suatu malam tatkala mengemudi sendiri mobilnya di jalan keluar kompleks kediamannya di daerah Kalibata. 

Pak ‘De’ Siradjuddin yang dikenal sebagai guru spiritualnya dikambing hitamkan, ditangkap, dipaksa mengakui sebagai pelaku, diadili dijatuhi hukuman seumur hidup dan sempat dipenjara bertahun-tahun lamanya. Hingga akhirnya, Pak De mendapat grasi dari Presiden BJ Habibi dimana hukuman Pak De dirubah dari seumur hidup menjadi 20 tahun di tahun 1999. Tanggal 27 Desember 2000 Pak De dapat meninggalkan hotel prodeo setelah pemerintah memberikan kebebasan bersyarat. 

Setelah menghirup udara bebas, Pak De lebih sering mengurusi ayam-ayamnya. Tubuhnya telah lama layu. Kumis tebalnya juga sudah berwarna kelabu. Kepada setiap orang kembali Pak De menyatakan: “Pak De tidak membunuh Ditje”. Pak De dalam kasus pembunuhan itu merasa menjadi kambing hitam oleh polisi dan Polda Metro Jaya. “Sebenarnya saat itu polisi tahu pembunuhnya,” kata Pak De. Siapakah pelakunya? Pak De menyebut-nyebut sejumlah nama yang saat itu dekat dengan kekuasaan. Entahlah, sebab di negeri ini keadilan tidak berlaku bagi rakyat kecil.

*****
3. Marsinah

Marsinah adalah gambaran buruh perempuan biasa yang pergi ke kota (Surabaya) untuk mengadu nasib. Sebelum bekerja di PT Catur Putra Surya –Rungkut pada tahun 1990, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan pengemasan barang. Di pabrik pembuatan arloji di Rungkut, Surabaya, dengan beberapa temannya, Marsinah menuntut berdirinya unit serikat pekerja formal (SPSI). Mungkin Tuntutan ini yang membuatnya dipindah pihak menejemen ke pabrik PT CPS lainnya di Porong, Sidoarjo pada awal tahun 1992.

Ia kost di pemukiman sekitar pabrik, desa Siring, dan bekerja sebagai operator mesin bagian injeksi dengan upah Rp. 1.700,- dan uang hadir Rp. 550,- per hari. Upah tersebut, sama halnya seperti sekarang dialami oleh buruh pada umumnya, jauh dari cukup. Demi menuntut hak atas upah sesuai UMR, Marsinah bersama dengan buruh-buruh PT. CPS lainnya melakukan pemogokan pada 3 - 4 Mei 1993 yang berujung pada pembunuhan Marsinah. 

Pada tgl 5 Mei 1993, 13 buruh yang dianggap sebagai penggerak pemogokan dipanggil ke Kodim untuk diinterogasi. Mengetahui hal itu, pada tgl 4 Mei 1993 malam, Marsinah menuliskan catatan berisi petunjuk jawaban apabila teman-temannya diinterogasi. Namun, pada Rabu 5 Mei 1993, 13 buruh PT CPS yang memenuhi panggilan Kodim, di markasnya di Sidoarjo dipaksa menandatangani surat pengunduran diri di atas kertas bermaterai dengan berbagai intimidasi maupun bujukan, termasuk akan diberi uang pesangon dan ‘uang kebijaksanaan’. Akhirnya mereka menerima uang pesangon yang diberikan langsung oleh pihak menejemen di markas itu.

Marsinah begitu marah, ketika 13 temannya sudah dipecat di Makodim. Rabu malam, 4 Mei 1993 adalah malam terakhir Marsinah terlihat. Malam itu, Marsinah berpamitan untuk membeli makan. Tapi tak ada satupun pihak yang mengetahui kemana malam itu Marsinah pergi. Apakah ia ke Kodim, ke rumah temannya atau pergi mencari makan entah kemana. Seperti yang diketahui banyak media massa, 3 hari Marsinah menghilang dan ditemukan meninggal secara mengenaskan pada 9 Mei 1993.

Sandiwara peradilan pembunuhan Marsinah pun dimulai. Pemilik PT CPS, para menejer perusahaan, bagian personalia, kepala bagian mesin, dan seorang satpam dan seorang supir perusahaan disekap dan disiksa Bakorstranasda selama 19 hari, di bulan Oktober 1993. Mereka dituduh bersekongkol memperkosa, menganiaya dan kemudian membunuh Marsinah. Mereka diadili dan diputus bersalah oleh Pengadilan Militer dan Pengadilan Negeri Sidoarjo, dan diperkuat Pengadilan Tinggi Surabaya setahun kemudian. Meskipun dua tahun kemudian, 3 Mei 1995, mereka divonis bebas Mahkamah Agung. 

Maka penyelidikan demi penyelidikan ulang pun di lakukan. Sebanyak 3 kali makam Marsinah dibongkar untuk kebutuhan penyelidikan. Baik Menteri Tenaga Kerja, Abdul Latief, para pemangku pemerintah dari Abdurrahman Wahid hingga Megawati berjanji untuk mengusut tuntas kasus Marsinah. Akan tetapi hingga kini, kematian Marsinah tetap menjadi misteri. 19 tahun berlalu tanpa kebenaran terungkap. Bahkan, pada tahun 2002 Komnas HAM berupaya untuk membuka kembali kasus Marsinah dan itu pun gagal menguak kembali pembunuh sebenarnya. Sang pelaku seakan dilindungi oleh tembok besar yang tidak bisa tertembus oleh hukum peradilan.

*****
4. Udin

Udin adalah seorang wartawan Harian Bernas di Yogyakarta yang tewas terbunuh oleh seseorang tidak dikenal. Udin yang bernama asli Fuad Muhammad Syafrudin pada selasa malam 13 Agustus 1996 kedatangan seorang tamu misterius yang kemudian menganiyaya dirinya dan pada tanggal 16 Agustus 1996 Udin harus mengembuskan nafas terakhirnya.

Udin tercatat sebagai seorang wartawan yang kritis terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer. Kasus Udin menjadi ramai karena Kanit Reserse Polres Bantul, Serka Edy Wuryanto dilaporkan telah membuang barang bukti dengan membuang sampel darah Udin ke laut dan mengambil buku catatan Udin dengan dalih penyelidikan dan penyidikan. Kasus Udin menjadi gelap akibat hilangnya beberapa bukti penting dalam pengungkapan kasus kematian sang wartawan dan juga terdapat beberapa orang yang dikambing hitamkan atas peristiwa kematian Udin.

Seorang wanita bernama Tri Sumaryani mengaku ditawari dengan imbalan sejumlah uang untuk membuat pengakuan bahwa ia dan Udin telah melakukan hubungan gelap dan suaminya lah yang telah membunuh Udin.

Lalu Dwi Sumaji alias Iwik  seorang supir dari Dymas Advertising Sleman diculik di perempatan Beran Sleman lalu dibawa ke Hotel Queen of the South Parangtritis. Dia dipaksa oleh Serka Edy Wuryanto yang memiliki nama panggilan Franky agar mengaku sebagai pembunuh Udin. Sebelumnya di sebuah losmen bernama Losmen Agung yang juga berada di parangtritis, Iwik dicekoki berbotol-botol minuman keras hingga mabuk dan disuguhi wanita penghibur dan dijanjikan akan diberi uang, pekerjaan yang layak serta jaminan hidup buat keluarganya. Ia dijebak oleh Edy Wuryanto dengan dalih pembicaraan bisnis Billboard. 

Di pengadilan Iwik mencabut seluruh “pengakuan” dirinya dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh Polisi karena ia sebagai korban rekayasa dan berada dibawah ancaman tekanan dan paksaan oleh Kanit Reserse Polres Bantul Serka Edy Wuryanto.
Komnas HAM mengadakan investigasi lapangan dan menyimpulkan telah terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia namun tetap saja Iwik dijadikan sebagai tersangka utama oleh Polisi dan diajukan ke persidangan. Walau penuh teror dari berbagai pihak akhirnya Iwik divonis bebas oleh majelis hakim dan motif perselingkuhan yang selama ini dihembuskan secara otomatis gugur. Selain itu majelis hakim memerintahkan agar polisi mencari, mengungkap motif, dan menangkap pelaku pembunuhan Udin yang sebenarnya.

Dalam kesaksiannya di persidangan Iwik menyatakan bahwa dirinya selain menjadi korban rekayasa dan bisnis politik, ia hanya dipaksa menjalankan skenario rekayasa Franki alias Serma Pol Edy Wuryanto dengan alasan untuk melindungi kepentingan Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo.

Namun hingga kini para pelaku kejahatan pembunuhan terhadap sang wartawan yang kritis tersebut tidak ada yang ditangkap atau diadili ke meja hukum.

*****
5. Salim Kancil

Dua orang warga dikeroyok oleh sekitar 40 orang pro penambangan akibat menolak penambangan pasir liar di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasiran, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kedua warga tersebut yakni Salim Kancil dan Tosan. Naas Salim tewas dalam pengeroyokan tersebut sedangkan Tosan mengalami luka-luka berat. Menurut investigasi yang telah dilakukan oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) Surabaya, Insiden itu terjadi pada Sabtu (26/09/2015) lalu.

Kala itu, Salim dan Tosan yang juga merupakan seorang aktivis Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa menolak keras adanya penambangan pasir liar di desanya. Akibat penolakan tersebut, mereka berdua dikeroyok sekitar 40 orang pro penambangan. Menurut Fatkhul Khoir selaku Tim Investigasi KontraS Surabaya menyebutkan, awal mula kejadian ini Tosan menjadi korban pertama. Ia digeruduk oleh sekelompok orang di rumahnya sekitar pukul 07.00 WIB.

“Tosan dijemput paksa di kediamannya. Tanpa banyak bicara lagi, puluhan orang yang membawa celurit, pentungan kayu, dan batu itu langsung mengeroyok Tosan,” ujar Fatkhul di Surabaya, Senin (28/09/2015). Saat dikeroyok oleh puluhan orang tersebut, Tosan pun berusaha menyelamatkan diri dengan lari menggunakan motornya. Namun sayang, motor Tosan langsung ditabrak.

“Lalu Tosan diseret ke lapangan dan kemudian dihajar habis-habisan. Para pelaku pun melindas tubuhnya beberapa kali dengan motor. Akibatnya, Tosan pun mengalami luka cukup berat,” ungkapnya. Karena mengalami luka-luka yang cukup berat, Tosan pun langsung dilarikan ke Puskesmas Pasiran dan kemudian dirujuk ke RSUD Lumajang dan RS Bhayangkara Lumajang. Usai puas membantai Tosan, gerombolan ini kemudian mencari Salim Kancil di kediamannya.

Serupa dengan yang dilakukan pada Tosan, gerombolan preman ini langsung mengikat Salim dan kemudian menyeretnya menuju Balai Desa Selok Awar-Awar, yang berjarak sekitar dua kilometer dari kediaman Salim. Tidak hanya diseret, selama perjalanan Salim pun dihajar dengan pukulan dan senjata. 
“Sepanjang perjalanan menuju balai desa, gerombolan ini terus menghajar Salim dengan senjata yang mereka bawa. Ironisnya, penganiayaan ini juga disaksikan oleh warga sekitar, yang ketakutan dengan aksi brutal itu.” sambungnya.

“Di balai desa, tanpa peduli ada anak-anak yang sedang mengikuti pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), gerombolan ini terus melakukan aksi brutal kepada Salim. Di dalam balai desa, Salim disetrum dengan alat listrik yang telah disiapkan oleh gerombolan itu,” terang Fatkhul. Walau berada di dalam ruangan balai desa, tidak ada satupun perangkat desa yang berani keluar menghentikan aksi anarkis itu. Salim Kancil pun akhirnya meninggal dalam aksi tak berperikemanusiaan tersebut. Salim meninggal dalam kondisi telungkup di antara kayu dan batu yang berserakan di dalam ruangan balai desa.

*****
6. Sebastian

Sebastian Manufuti (32), pria yang bakar diri dan terjun di GBK hingga tewas dikenal aktif dalam organisasi buruh. Bahkan, sebelum dia tewas bakar diri, dia menulis status dalam akun Facebook-nya yang berisi perjuangan seorang buruh.

Sebastian, dia menulis status sekitar pukul 16.25 WIB, Jumat (1/5) kemarin atau beberapa saat sebelum dia bakar diri. Dalam statusnya, tertulis 'Semampu ku kan berbuat apapun agar anda, kita dan mereka bisa terbuka matanya, telinganya dan hatinya untuk KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA".

Status itu diduga kuat ada kaitannya dengan aktivitasnya di tempat kerja Sebastian, yaitu PT Tirta Alam Segar, di mana di perusahaan itu sering terjadi kecelakaan kerja. Sebastian sering mengadvokasi korban untuk mendapatkan hak dari perusahaan, namun upayanya sering gagal. Misalnya, kasus yang menimpa seorang buruh bernama Topan. Temannya itu harus cacat karena kecelakaan di bagian produksi. Kebutuhan biaya sebesar Rp 67 juta. Meski sudah ada BPJS, namun sebagian biaya ditanggung sendiri. Pasca-korban sembuh, temannya itu dimutasi ke cleaning servis, statusnya pun tak dinaikkan, dan masih kontrak. Dia frustasi karena di pabriknya banyak kecelakaan kerja.

*****
7. Supatmi

SUPATMI dkk Sejak Senin 13 Maret 2017, warga pedesaan di kawasan bentang alam karst Kendeng memulai aksi kolektif untuk memprotes pemerintah pusat dan pemerintah daerah atas rencana pendirian dan pengoperasian pabrik Semen milik PT Semen Indonesia di Rembang dan semen lainnya di pegunungan Kendeng. Termasuk dalam ketidak-becusan tersebut antara lain adalah pengambilan keputusan dan tindakan yang mempermainkan hukum, termasuk mengecilkan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang membatalkan Ijin Lingkungan; dan mengganggu usaha warga untuk mendapatkan keadilan atau membiarkan berlangsungnya gangguan dari pihak lain. 

Sejak awal, seluruh peserta aksi #DipasungSemen2 didampingi dan dimonitor selalu oleh tim Dokter yang siaga di YLBHI dan di lokasi aksi. Aksi protes berlangsung setiap hari, dimulai dari siang sampai sore, dengan fasilitas sanitasi lapangan dan peneduh. Pada sore hari peserta aksi pulang ke tempat beristirahat dan menginap di YLBHI jalan Diponegoro Jakarta.

Kamis, 23 Maret 2017, datang menyusul kurang-lebih 55 warga dari kabupaten Pati dan Rembang bergabung melakukan aksi pengecoran kaki dengan semen.  Dua Puluh dari yang datang memulai mengecor kaki di hari Kamis tersebut. Bu Patmi adalah salah satu dari yang mengecor kaki dengan kesadaran tanggung jawab penuh. Beliau datang sekeluarga, dengan kakak dan adiknya, dengan seijin suaminya. 

Senin sore, 20 Maret 2017, perwakilan warga diundang Kepala Kantor Staf Presiden, Teten Masduki untuk berdialog di dalam kantor KSP. Pada pokoknya, perwakilan menyatakan menolak skema penyelesaian konflik yang hendak digantungkan pada penerbitan hasil laporan KLHS yang sama tertutupnya dan bahkan samasekali tidak menyertakan warga yang bersepakat menolak pendirian pabrik semen PT Semen Indonesia dan Pabrik Semen lainnya di Pegunungan Kendeng tersebut.  Pada malam hari, diputuskan untuk meneruskan aksi tetapi dengan mengubah cara. Sebagian besar warga akan pulang ke kampung halaman, sementara aksi akan terus dilakukan oleh 9 orang. (Alm) Bu Patmi (48) adalah salah satu yang akan pulang sehingga cor kakinya dibuka semalam, dan persiapan untuk pulang di pagi hari.

Bu Patmi sebelumnya dinyatakan sehat dan dalam keadaan baik oleh Dokter. Kurang lebih pukul 02:30 dini hari (Selasa, 21 Maret 2017) setalah mandi, bu Patmi mengeluh badannya tidak nyaman, lalu mengalami kejang-kejang dan muntah. Dokter yang sedang mendampingi dan bertugas segera membawa bu Patmi ke RS St. Carolus Salemba. Menjelang sampai di RS, dokter mendapatkan bahwa bu Patmi meninggal dunia. Pihak RS St. Carolus menyatakan bahwa bu Patmi meninggal mendadak pada sekitar Pukul 02.55 dengan dugaan jantung. Pagi ini jenasah almarhumah Bu Patmi dipulangkan ke desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati untuk dimakamkan di desanya. Dulur-dulur kendeng juga langsung pulang menuju Kendeng

*****

Kaum buruh Indonesia,

Sejumlah kasus pelanggaran HAM tersebut di atas membuka mata kita bahwa ibarat mata pisau, hukum begitu tajam ke bawah dan tumpul keatas. Ini terlalu sering terjadi dalam kasus kasus hukum yang melibatkan pejabat pemerintahan, baik di daerah dan pusat. Kalaupun ada penegakkan hukum biasanya ditegakkan penuh manipulasi dan mengabaikan rasa keadilan masyarakat. Salahsatunya, dengan berlindung di balik asas praduga tak bersalah. Belum lagi tradisi sosial masyarakat yang begitu pemaaf, termasuk memaafkan para pelangar HAM, cukup dengan mereka memberikan bingkisan bikisan pemanis untuk memanipulasi ke jahatan dan kebobrokannya.

Dalam, peringatan hari Marsinah kali ini semakin membangkitkan semangat patriotisme guna merubah sudut pandang kita tentang sebuah tatanan masyarakat yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup bernegara secara demokrasi, tanpa memandang perbedaan ras, agama, jenis kelamin, suku dll. Membunuh watak sauvenisme yang ada pada diri kita masing masing guna menuju tatanan masarakat yang memanusiakan manusia. Sudah saatnya buruh dan rakyat merebut dan memperjuangkan kembali hak hak sebagai warga negara yang tergadaikan. Sudah saatnya rakyat bergerak untuk berdaulat. Yang sangat kita perlukan adalah merawat dan mengembangkan inisiatif yang ada, menambah daftar keberhasilan/pencapaian kita selama ini. Hal ini tentu bukan digunakan untuk melupakan kekalahan dan kelemahan tetapi kembali dijadikan titik pijakan kita melihat ke depan termasuk kelanjutan langkah dan startegi kita.

Terlebih lagi Karena kemerdekaan berfikir, berekpresi, berpendapat adalah hak yang tak selayaknya dikebiri dan dimutilasi. Sudah saatnya masa rakyat dan buruh sadar dari tidur panjangnya bahwa keadilan tak akan datang begitu saja tanpa diperjuangkan, begitu kejinya sistem pemerintahan yang tak terkontrol oleh rakyatnya. Barbarisme, penghilangan paksa terhadap kebebasan berpendapat yang akhirnya harus terkubur dan menjadi tumbal dari sebuah sistem yg hanya mementingkan kepentingan segelintir orang saja.

Sampai kapan kita menunggu? Apa menunggu kita, anak kita, keluarga kita atau cucu - keturunan kita dulu menjadi korban, baru kita akan tersadar? Tidak tentunya. Maka tak ada waktu lagi bagi kita untuk berdiam diri. Mari bersama sama per-erat persatuan kita dalam bingkai persatuan buruh, organisasi buruh dan front buruh. Tetapi semua akan kembali di cerai beraikan tanpa kesadaran individu untuk memiliki kesadaran yang sejati tanpa pamrih kepentingan individual semata.

Dan selanjutnya mendesak pemerintah untuk melakukan perobahan kebijakakan serta menawarkan alternatif perlu segera dilakukan. Bersamaan dengan itu pengorganisasian massa rakyat dan buruh menjadi kunci agar perobahan terus menerus bisa digulirkan, agar upaya pembelaan dan perlindungan kepentingan rakyat semakin intensif dilakukan. Upaya bersama sama rakyat dan buruh melawan dan mengubah situasi yang telah memblokade mereka juga di lakukan.

Salam muda berani militan...!!!

Thursday, 4 May 2017

KASBI Bandung Raya Gelar Aksi di Dua Titik Saat May Day 2017

Hari Buruh Sedunia atau dikenal dengan sebutan May Day yang diperingati setiap tanggal 1 Mei selalu ditandai dengan aksi unjuk rasa buruh di tiap - tiap kota. Seperti pada May Day tahun ini, hampir di seluruh kota di Indonesia terjadi unjuk rasa sebagai bentuk perlawanan atas kebijakan pemerintah yang merugikan kaum buruh. Tak ketinggalan Serikat Buruh Mandiri (SBM), salah satu Serikat Buruh Anggota Konfederasi Kongres Serikat Buruh Indonesia (KASBI) yang ada di Kota Bandung juga menjadi bagian dari sejarah perlawanan kaum buruh sedunia itu. 

Pada May Day beberapa hari yang lalu SBM - KASBI mempertegas perlawanan nya terhadap razim penguasa saat ini yang kian memperdalam jurang penderitaan kaum buruh dan rakyat. Menurut Aminah, Ketua SBM PT Sandang Saritex, kebijakan - kebijakan yang digelontorkan pemerintah mulai dari daerah sampai pusat hanya upaya legalisasi terhadap penindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh pengusaha kepada buruhnya.

"Bangsa ini lahir dari keringat dan tumpah darah rakyat yang ingin merdeka, ingin aman dan sejahtera tanpa penjajahan, penindasan dan penghisapan. Tetapi penyelenggara negara dari rezim ke rezim justru menjadi penjajah - penjajah yang kian memperjelas posisi buruh Indonesia menjadi sasaran eksploitasi modal", Tegas Aminah. 




Sebagai contoh, dia menguraikan bagaimana praktek fleksibilisasi pasar kerja lewat sistem kerja kontrak dan outsourcing yang merajalela hingga hari belum terselesaikan tetapi pemerintah sudah mempersiapkan pola penghisapan baru, yaitu pemagangan. Dengan pemagangan yang sedang gencar dikampanyekan oleh Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri, menurut dia pemerintah telah membuka lebar - lebar pintu gerbang pelanggaran - pelanggaran bagi pengusaha seperti PHK, pemberangusan serikat buruh, pelanggaran upah dan bentuk pelanggaran - pelanggaran lainya. Bagimana tidak, dalam Peraturan Menteri Nomor 36 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri, pengusaha hanya diwajibkan memberi uang saku yang terdiri dari biaya trasnportasi, makan, dan insentif untuk peserta magang. 

"Ini jelas akan menyumbang masalah baru. Pengusaha pasti lebih memilih bayar uang saku dari pada bayar upah. Maka PHK semena - mena akan terjadi kepada buruh yang sudah bekerja lama untuk digantikan dengan pekerja magang", kritik Aminah.

Tak lupa pada momentum May Day itu Aminah mengajak seluruh elemen buruh dan serikat buruh untuk lebih memperkuat posisi dan memperhebat perlawanan. Hal itu disampaikan untuk menyikapi trik pengusaha dan pemerintah yang berusaha melemahkan gerakan buruh. 

"Perjuangan ini berat dan tidak main main. Taruhannya masa depan anak cucu kita, makanya harus serius dan sepenuh hati. Cukup pengusaha yang berusaha melakukan pelemahan dan politik pecah belah, maka itu pentingnya penguatan lewat pendidikan dan latihan dalam praktek kita. Jangan sampai pelemahan itu datang dari kita sendiri, itu berarti gak serius dan main - main namanya", seru Aminah selaku koordinator lapangan aksi.

Sekitar 500 anggota SBM - KASBI yang semula bertitik kumpul di  jalan Soekarno - Hatta, Terusan Kiaracondong kemudian bergerak ke Balai Kota Bandung melewati Jl. A. H. Nasution. Selain berorasi dan mengusung Sepuluh Tuntutan Rakyat, aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh anggota SBM PT. Sandang Saritex, SBM PT. Metro Tara dan SBM PT. Genta Tri Karya itu juga diwarnai oleh atraksi kesenian daerah yang mereka namakan BENJANG. Spanduk, poster yang berisi tuntutan dan sejumlah alat peraga lainnya menjadi sasaran camera para wartawan yang sedang melakukan peliputan dan aparat kepolisian yang sedang melakukan pengamanan.

Di lokasi terpisah, Federasi Pusat Perjuangan Buruh Bandung (FPPB-Bandung) juga melakukan aksi unjuk rasa. Sekitar 1500 orang anggota KASBI yang berasal dari Cimahi, Sumedang, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung berkumpul di Monumen Perjuangan Rakyat dan berjalan kaki (long march) ke Gedung Sate sambil membentang spanduk dan poster yang berisi tuntutan.

Tak hanya mengusung Sepuluh Tuntutan Rakyat (SEPULTURA) dalam orasi - orasinya, FPPB menyoroti tentang maraknya sistem kerja kontrak, outsourcing, upah murah dan program pemagangan yang dilounching baru baru ini di Kab. Karawang. 



Selain itu, mereka juga mengkritik kinerja Disnaker yang dinilai tidak serius dalam menjalankan fungsi pengawasan dan penindakan setiap pelanggaran norma ketenagakerjaan. Kebobrokan Pengadilan Hubungan Industrial dan minimnya perlindungan buruh perempuan tak luput dari teriakan setiap buruh yang berorasi secara bergantian. (IB)

Tuesday, 24 January 2017

KASBI Nonton Bareng Film Widji Tukul

KASBI Nonton Bareng Film Widji Tukul
Seru! Di hari Minggu, 22 Januari 2017 Taman Ismail Marzuki (TIM) memerah seketika. Satu ruangan studio gedung bioskop dijejali sekelompok buruh berseragam kompak. Tulisan di bajunya KASBI. Dari Tangerang (Banten), DKI Jakarta, Bekasi, Karawang hingga Bandung Raya. Hanya ada satu kata, "Nobar"

"Istirahatlah Kata-Kata". Film berdurasi puluhan menit ini mengangkat kembali kisah sesosok manusia. Kurusnya mirip Presiden Republik Indonesia. Asalnya, sama-sama dari kota Bengawan. Hanya terpaut kelurahan saja. Tukul dari kecamatan Jebres Solo, Jokowi dari Mojosongo.

Sanggar Suka Banjir di daerah Jagalan, adalah dedikasinya selama menghimpun warga dan anak-anak. Bergelut di daerah rawan banjir. Pasalnya, hanya beberapa ratus meter saja dari rumah pribadi Walikota Solo saat ini, Pak Rudi. Di area Pucangsawit. Namun nasiblah yang membedakan orang-orang terkenal ini. Meski berasal dari kota yang terkenal Batik, dan lagu legendaris Sang Maestro Keroncong, berjudul Bengawan Solo. Karya Mbah Gesang!

Tukul terlahir dari lingkungan kemiskinan. Besar di rezim otoriter orde baru. Menjadi Penyair kenamaan yang kerap dicerca sana-sini. Maklum, Widji Tukul memilih budaya perlawanan. Sementara Presiden Republik Indonesia, berhasil lulus fakultas Kehutanan UGM. Berbisnis Meubel. Dan menjadi Presiden. Yang sebelumnya pernah memimpin Solo sejak tahun 2005. Kehidupan Tukul amat sulit. Seorang istri dan dua orang anaknya kini telah menjadi dewasa, dan bercucu. Namun Tukul tak pernah merasakan hidup sebagai kakek dan menimang-nimang cucunya! Kalau saya ingat-ingat, Desember 1997, adalah waktu terakhir Sang Penyair bertegur sapa dengan orang-orang kepercayaannya, saat itu di kota kelahirannya. Selepas bulan itu. Sosoknya amblas ditelan waktu. Kalau mau dihitung ulang. Tahun ini genap 20 tahun.

Sajak-sajaknya menggema di seantero nusantara. Di belahan Eropa, karyanya sempat dibacakan dan dibincangkan banyak orang. "Bunga dan Tembok", atau "Peringatan" misalnya, jika dibacakan siapa saja, karya ini akan membawa pendengar dan audiens terbang ke alam perjuangan. Mau di gedung kesenian, dan sasana budaya, teater, di atas mobil komando, dan pangung-panggung perlawanan rakyat. Sebab, karya ini akan semakin hidup dan menemukan jiwa korsanya! Kiri dan revolusioner. Inilah sosok Widji Tukul yang sebenarnya. Tak ada karyanya yang tidak bernalar perjuangan. Dan keberpihakan teehadap kaum tertindas. Utamanya kaum buruh dan tani. Ia dikenal sebagai penyair cum aktifis. Partai Rakyat Demokratik (PRD) pernah menjadi pilihan organisasinya dalam berjuang. Bersama buruh dan petani, Tukul memilih jalan terjal dan berliku. Melawan seluruh sendi-sendi kapitalisme, rejim otoriter Soeharto, dan kekejaman aparat negara kala itu.

Konon Presiden Republik Indonesia ke Tujuh ini amat menaruh apresiasi. Bahasa kerennya, "nge-fans berat".

Tukul kini hanya bisa ditemukan lewat karyanya. Dan kehangatan berbincang bersama istrinya, Yu Pon. Dan anak putra putrinya. Fajar Merah dan Nganti Wani. Kira-kira 15 tahun yang lalu. Saya bersama seorang kawan penulis kesohor waktu itu, Alm. Joko Sumantri sempat adakan festival kecil-kecilan. Di tingkat kelurahan Jagalan. Lomba baca sajak, deklamasi dan puisi. Nganti Wani, masih sekolah, seumuran remaja. Dan sejak kami sadari kala itu, Wani adalah keturunan Tukul yang memiliki potensi dan darah seni menjadi Penyair. Mendengarkan Wani saat itu, terngiang dengarkan intonasi suara, gaya khas Tukul membaca sajak-sajak perlawanannya. Jelas. Wani menyabet gelar juara pertama di hari itu. Bukan karena kami merasa dekat saja. Namun, memang pantas seorang Nganti Wani mendapati predikat tersebut.

Ach.. Alam pikir ku malah melayang ke lompatan peristiwa lampau jadinya. Padahal beberapa kawan-kawan ku kini, masih berduduk-duduk dan mulai berpamitan satu sama lainnya.

Siang hingga jelas malam ini, kaum MUDA, BERANI, MILITAN dari Serikat Buruh Anggota KASBI buktikan keberpihakannya untuk sebuah inspirasi dan sosok pejuang tangguh di masa orde baru. Meskipun Tukul tak bersama kita, namun kiprah, semangat, sisi kemanusiaannya akan tetap kekal selama-lamanya.

KASBI Nonton Bareng Film Widji Tukul

KASBI Nonton Bareng Film Widji Tukul

Indonesia telah kehilangan Widji Tukul. Tapi Indonesia tidak boleh lagi alami penghilangan paksa. Orang-orang yang memiliki akal sehat. Keberpihakan orang-orang yang berjiwa besar untuk kebebasan, kedaulatan, kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat, bangsa dan negaranya. Widji Tukul, akan selalu di dada kaum pejuang rakyat. Widji Tukul tak akan pernah hilang dari ingatan!
Negara berhutang nyawa!

Selamatkan Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat Indonesia!
Salam MUDA, BERANI, MILITAN!

Oleh: Kelompok Bunga Merah (Eka)

Friday, 2 September 2016

Komune Paris 1871: Pemerintahan Buruh Pertama di Dunia

Bidan Desa
Mantan Vocalis Boomerang, Roy menyatakan dukungan terhadap perjuangan Bidan Desa PTT
Komune Paris merupakan pemerintahan Pertama yang dikuasai oleh kelas buruh. Sejarah melukiskannya sebagai “hasil perjuangan kaum produsen melawan kelas penghisap, sebuah bentuk politik yang akhirnya ditemukan yang dibawahnya kita dapat menjalankan emansipasi ekonomis kaum buruh.”

Selama 72 hari kelas buruh memegang pemerintahan di kota Paris. Walau tidak bertahan lama, Komune Paris menjadi sebuah perkembangan yang sangat penting dan sangat potensial untuk perjuangan buruh, yang memberikan pelajaran baik positif maupun negatif tentang bagaimana kita membangun sebuah masyarakat sosialis.

Terdapat sejumlah kesimpulan yang mahapenting dalam mempelajari Komune Paris, dan kesimpulan-kesimpulan tersebut telah diterbitkan dalam sebuah karya besar berjudul “Perang Sipil di Perancis”. Seperti dinyatakan dalam buku tersebut: “Dengan perjuangan di Paris itu, perjuangan kelas buruh melawan kelas kapitalis dan aparatus negaranya telah masuk tahapan baru. Tidak peduli hasilnya yang sementara, kita telah mendapati sebuah titik tolak baru yang sangat berarti dalam sejarah dunia.”

Komune membuktikan kemampuan kelas pekerja untuk mengambil alih kekuaasan dan memerintah secara demokratis dan kolektif demi kepentingan rakyat luas: kaum buruh, kaum miskin, kaum tertindas. Komune menjadi sebuah emansipasi sementara – sebuah pesta rakyat tertindas – di mana kaum pekerja memperlihatkan keberanian, akal daya dan kreativitasnya.

Latar Belakang Sejarah

Sebelum tahun 1870 Perancis dikuasai selama 20 tahun oleh Louis Napoleon, seorang tiran badut yang bercita-cita menghidupkan kembali kejayaan pamannya, Napoleon Bonaparte. Si badut yang menamakan diri Napoleone III itu, mengepalai sebuah rezim yang korup dan represif bernama Kekaisaran Kedua.

“Kaisar” ini menjalankan sederetan perang dan petualangan. Tetapi begitu dia menghadapi negara Jerman di bawah Otto von Bismark, dia kalah. Tentara Perancis dihancurkan dalam waktu beberapa hari dan si Napoleone III ditangkap. Kemudian terbentuklah “Pemerintah Pembela Bangsa” dibawah Adolphe Thiers dengan tujuan menyelesaikan perang secepat mungkin serta mejaga kestabilan sosial di bawah kekuasaan borjuis sebagai harga perdamaian setelah kekalahan Prancis atas Prussia atau Jerman.

Akan tetapi kaum pekerja Paris mempunyai rencana lain. Saat itu Paris terkepung oleh tentara Jerman dan dibela terutama oleh Garda Nasional yang dalam garis besar terdiri atas buruh bersenjata. Rakyat pekerja Paris telah mewarisi tradisi perjuangan dan radikalisme yang kuat dari Revolusi Perancis tahun 1789. Tradisi itu mengilhami perjuangan mereka pada tahun 1870.

Pemerintah Thiers yang bermarkas di Versailles, agak jauh dari Paris agar selamat dari kaum buruh, menyerah kepada Jerman di bulan Januari 1871. Tidak hanya karena tentara Perancis kehabisan tenaga, tetapi juga karena Thiers cs merasa takut dihadapan kebangkitan kaum buruh bersenjata di Paris. Bagi mereka, tugas utama adalah menaklukkan kaum pekerja.

Bagaimanapun juga Paris bersikap menentang, dimana tidak dapat menerima kemenangan Prussia. Ini artinya Paris tidak puas dengan penyerahan pemerintahan ke tangan Prussia. Kemarahan patriotik Perancis mengalahkan ketidakmampuan kemarahan pemerintahan baru di Versailles. Pasukan nasional Paris tetap bersiaga, siap untuk menolak segala macam pemasukan dengan paksa dari para Prussia ke Paris. Meriam-meriam yang digunakan pengepungan kota Paris telah dibawa ke berbagai tempat di Paris. Akhirnya semua meriam itulah yang dibawa ke berbagai daerah, sehingga menjadi isu yang kritis.

Pada tanggal 18 Maret, Thiers mengirimkan pasukan ke Paris di bawah kepemimpinan Jendral Lecomte ke Paris untuk merebut meriam-meriam Garda Nasional, sebagai langkah pertama dalam upaya melucuti semua persenjataan rakyat pekerja. Pasukan itu didukung oleh polisi pula. “Kami akan menggebuk mereka” bual si Jendral Lecomte. Rencananya adalah dengan menduduki titik-titik strategis di kota, merebut persenjataan dan menangkap para revolusioner yang sudah dikenal. Thiers sendiri bersama beberapa menterinya pergi ke Paris untuk mengawasi jalannya operasi.

Namun rencana itu gagal. Massa buruh, dipimpim oleh kaum perempuan, bergegas membela meriam-meriam itu dengan mengorganisir para tentara rendahan, sampai tentara itu tidak lagi menurut perintah. Berkali-kali Lecomte menyuruh mereka menembak (“Setidaknya tembaklah satu kali demi martabat kita!”) tapi mereka menolak dan akhirnya membuang senjata mereka. Sebagian membelot ke pihak buruh, sebagian lain mengundurkan diri. Para pasukan itu menjadikan para perwiranya tunduk kepada mereka dan tinggal hanya para polisi militer yang dapat memberi semacam perintah kepada mereka. Jadi mereka dengan sangat terburu-buru menarik kembali beberapa resimen yang terlupakan dan tertinggal di Paris (sekitar 20 ribu orang). Para perwira dijadikan tahanan, sementara sekitar 1.500 orang tertinggal tanpa perintah dan hanya duduk-duduk selama periode komune. Orang-orang yang duduk di pemerintahan meninggalkan kota.

Jam 11 tepat pada malam itu, komite pusat dari Tentara Nasional akhirnya dapat engumpulkan anggotanya beserta cukup keberanian untuk mengambil alih Hotel de Ville yang ditinggalkan, sementara komandan Tentara Nasional lainnya dan anak buahnya tetap tinggal di gedung-gedung umum di pusat kota.

Delapan hari kemudian pemungutan suara di Paris diadakan dengan 227.000 suara yang terhitung. Ini hanyalah setengah dari jumlah pendaftar yang mendaftar sebelum perang, semenjak terjadi pengurangan populasi besar-besaran. Eksodus ini berjalan untuk mengambil keuntungan dari ‘area kelas pekerja’ yang pada saat itu menjadi daerah yang sangat makmur yang masih ada. Juga dengan sistem representatif yang proporsional yang diadopsi oleh Komute Pusat yang memberikan lebih banyak representasi bagi distrik dimana banyak populasi kelas pekerja daripada sistem yang sebelumnya. Hasil menunjukkan kelebihan ada pada kelompok kiri, hanya sekitar 15-20 dari kaum republik moderat yang dipilih dimana mereka segera meletakkan jabatan.

Secara formal, komune diterapkan di Hotel de Ville dua hari kemudian pada saat teriknya musim panas yang penuh kejayaan di hari Selasa tanggal 28 Maret. Batalyon Tentara Nasional berkumpul, nama-nama yang baru pilih akhirnya dibacakan, dengan mengenakan pakaian merah, mereka berbaris ke Hotel de Ville dengan kebanggaan yang mengerumuni dan menyingkirkan republik. Bendera merah dikibarkan tinggi-tinggi sejak mulai tanggal 18 Maret dan rentetan senjata dibunyikan menyambut Proklamasi Komune Paris.

Capaian Komune Paris

Hari itu juga, Komite Pusat dari Garda Nasional mendeklarasikan sebuah republik:
“Kaum proletarian, di tengah kegagalan dan pengkhianatan kelas-kelas penguasa, telah sadar bahwa sudah saatnya menyelamatkan rakyat dengan mengambil alih kepengurusan masalah-masalah umum.”

Mereka menerapkan reformasi di bidang perburuhan, politik dan urusan sosial, seperti pemisahan antara agama dan negara, regulasi jam-jam kerja, administrasi demokratis oleh para karyawan di kampung-kampung, hak-hak sipil untuk pendatang asing, demokratisasi pendidikan dan tempat pengasuhan anak. Semua ini dijalankan dalam keadaan darurat saat Paris terkepung dan mengalami kelaparan.

Lebih penting lagi, Komune menerapkan mekanisme baru dalam pemerintahan. Komune membubarkan tentara tetap yang terpisah dari rakyat. Kepolisian dan pengadilan dibubarkan pula, sampai semua tatanan sosial dijaga oleh rakyat bersenjata. Sebagai akibatnya, angka kriminalitas jatuh secara tajam, mana lagi para penjahat terbesar – kaum kapitalis – telah kabur.

Bentuk pemerintahan parlementer juga dihapuskan. Semua keputusan dibuat dan diterapkan oleh komite-komite yang terdiri dari para pengurus dan perwakilan yang dipilih, dan mereka semua bisa ditarik (recall) dan digantikan sewaktu-waktu serta dibayar tidak lebih dari upah rata-rata buruh. Dengan cara ini, massa mampu mengontrol perwakilan-perwakilan mereka dan perwakilan-perwakilan tersebut bisa dipertanggungjawabkan. Massa menjalankan kontrol langsung terhadap pemerintahan mereka. Artinya, mereka menciptakan sebuah negara tipe baru: sebuah negara buruh. Mekanisme-mekanisme yang mirip muncul juga dalam setiap perjuangan revolusioner kaum buruh sejak waktu itu, seperti soviet-soviet di Rusia pada tahuh 1905-1917, dewan-dewan revolusioner di Itali pada tahun 1920, di Hungaria pada tahun 1956, di Iran pada tahun 1979, dan di Polandia selama kebangkitan Solidarnosc pada 1980.

Sudah jauh-jauh hari dicatat, bahwa aparatus negara merupakan sebuah alat penindas bagi kelas penguasa. Walau aparatus berpura-pura “netral” seolah-olah berdiri di atas konflik-konflik kepentingan dalam masyarakat, sebetulnya negara itu melayani kepentigan kelas penguasa serta mempertahankan kekuasaannya.

Dalam sistem politik kapitalis, parlemen hasil “politik uang” menyetujui undang-undang yang diterapkan oleh pegawai yang tidak terpilih (seperti kepala-kepala birokrasi negara) dan undang-undang itu diselenggarakan secara timpang oleh pengadilan dan kepolisian. Tentara juga melindungi kepentingan kapitalis baik melawan ancaman luar maupun perlawanan dalam negeri, terutama dari rakyat pekerja. Maka sering dikatakan bahwa aparatus negara dengan “satuan-satuan khusus bersenjata”. Aparatus semacam ini diperlukan karena kelas kapitalis hanya merupakan sebuah minoritas kecil yang memaksa kemauannya.

Dalam teori dinyatakan “mengangkat proletariat pada kedudukan kelas yang berkuasa, memenangkan perjuangan demokrasi.” Artinya kaum pekerja harus merebut kekuasaan politik dulu, baru dapat menjalankan perubahan ekonomi dan sosial. Bagaimana caranya?
Pengalaman Komune Paris memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan jelas. Kelas pekerja tidak bisa mengambil alih aparatus negara yang ada, dengan harapan aparatus itu dapat digunakan demi tujuan kaum buruh. Untuk merubah masyarakat, kaum pekerja memerlukan sebuah negara tipe baru, seperti yang didirikan oleh Komune tersebut.

Tapi kalau semua negara merupakan alat penindas, kenapa kita menginginkan sebuah “negara buruh”? Bukankah lebih baik kita membuang negara sama sekali?

Secara umum dikatakan juga bahwa kelas bruh ingin menghilangkan fungsi negara sebagai penindas. Itu menjadi tujuan akhir kita. Tetapi sebuah masyarakat tanpa struktur kelas tidak akan muncul serta-merta di saat revolusi. Kaum penguasa tidak akan menerima kekalahannya begitu saja. Sebaliknya, kelas penguasa masih memiliki banyak sumber daya dan dukungan dari lapisan sosial tertentu, dan kelas itu akan berusaha matian-matian untuk merebut kembali kekuasaan. Guna mengalahkan pihak borjuis, pihak revolusioner harus mengerahkan tenaganya guna mematahkan segala upaya kontra-revolusi. Untukitu dibutuhkanlah negara buruh.

Namun negara buruh bersifat jauh lebih demokratis dibandingkan negara kapitalis. Negara buruh itu membela kepentingan mayoritas dalam masyarakat. Maka peranan represifnya jauh lebih terbatas. Selain itu, represi yang dilakukan terhadap kaum borjuis akan diterapkan oleh kaum buruh dan oleh rakyat bersenjata, bukan oleh pasukan khusus yang berdiri di atas masyarakat.

Negara buruh merupakan sebuah tahap transisional yang tak terhindarkan antara kapitalisme dan sosialisme. Semakin masyarakat tipe baru berkembang dan kaum pekerja mengkonsolidasikan kekuasaan mereka, semakin kuranglah kemampuan kaum kapitalis untuk melawan – sampai aparatus represif itu tidak lagi dibutuhkan. Aparatus negara akan melenyap secara berangsur-berangsur.

“Hanya dalam masyarakat yang dicita-citakan oleh kaum buruh, ketika perlawanan kaum kapitalis sudah dipatahkan secara pasti, ketika kaum kapitalis sudah lenyap, ketika tidak ada kelas-kelas (yaitu tidak ada perbedaan di antara anggota-anggota masyarakat dalam hal hubungan mereka dengan alat-alat produksi sosial) —barulah negara lenyap dan kita dapat berbicara tentang kebebasan”.

Sayangnya Komune Paris tidak berkembang sampai ke situ. Revolusi tetap terisolasi di Paris, sehingga pihak borjuis bisa mengkonsolidasikan kekuatannya guna menyerang Paris. Komune dihancurkan; sampai 30.000 orang dibunuh dan 15.000 ditangkap.

Komune Paris menjadi inspirasi untuk revolusi-revolusi mendatang. Akan tetapi Komune itu juga menonjolkan sejumlah kelemahan. Yang pertama, perjuangan revolusioner tidak meluas keluar Paris, sehingga Komune tidak mendapatkan solidaritas dari rakyat tertindas di kawasan lain. Kaum buruh sendiri masih bekerja dalam perusahaan yang relatif kecil, sehingga pengorganisasian lebih berfokus pada kampung bukan pada tempat kerja; dan mereka belum menjadi mayoritas dalam negeri Perancis secara menyeluruh. Kaum perempuan memainkan peranan penting dalam memimpin Komune, tetapi mereka tidak mendapatkan persamaan hak; misalnya mereka tidak boleh ikut menyoblos dalam pemilihan.

Meskipun demikian, Komune Paris memberikan banyak pelajaran kepada gerakan buruh. Komune itu membuktikan bahwa rakyat pekerja mampu mengurus pemerintahan. Konsep-konsep strategis yang muncul dan berkembang dalam Komune Paris yang pada kemudian hari memberikan pelajaran penting bagi perjuangan kaum buruh revolusioner.

***Diolah dari berbagai sumber untuk tujuan pendidikan dan bacaan***