WFTU

Mendengar Dan Memahami, Kunci Dalam Komunikasi

Kamu bisa menunjukkan kamu peduli hanya dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan tanpa memberikan nasehat

Undang-undang PPHI Jurang Bagi Kaum Buruh

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 dan undang-undang No. 2 Tahun 2004 sebagai buah kompromi politik di parlemen sudah pasti saran juga dengan kepentingan politik

Rentenir, Setan Kapitalisme Di Pabrik

Kaum buruh adalah mangsa empuk bagi lintah darat. Upah yang minim dan kebutuhan hidup yang tidak sebanding dengan besaran upah menyebabkan banyak buruh pada akhirnya dengan terpaksa menyerahkan batang lehernya kepada lintah darat

Mengetahui Hak-Hak Normatif Buruh

Hak normatif buruh adalah hak dasar buruh dalam hubungan kerja yang dilindungi dan dijamin dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku

Gerakan Buruh Adalah Perjuangan sejati Menuju Perubahan

Saat ini hanya serikat buruh sejatilah yang tetap konsisten dalam berjuang melawan ketidakadilan. Janji-janji busuk dan kebijakan-kebijakan populis tak mampu membeli idealisme kaum buruh

Showing posts with label WFTU. Show all posts
Showing posts with label WFTU. Show all posts

Sunday, 9 October 2016

Anwar: Polisi Afrika Itu Berserikat, Beda Dengan Polisi Indonesia

Bicara tentang Afrika tentu di otak kita akan terbayang hutan yang luas dengan binatang - binatang nya yang buas. Alam kering dengan suhu yang panas. Manusia - manusia berkulit hitam, seram, brutal atau apalah istilahnya.

Tapi setelah saya mengalami sendiri datang ke Afrika, ternyata Afrika Selatan itu negara yang cukup nyaman untuk dikunjungi. Keadaan alamnya rata-rata cerah dan suhu udaranya cukup sejuk. Suhu rata-rata antara 20 - 25°C memaksa saya untuk selalu mengenakan jaket. Setiap saya keluar untuk jalan-jalan masih bisa ditemui marga satwa liar yang terpelihara populasinya.

Penduduknya ramah. Betapa mereka sangat menghormati sesama manusia, baik itu orang pendatang atau bukan, berkulit hitam atau putih tidak ada bedanya. Memang semenjak kemenangan Nelson Mandela menghapus aparteid, negara Afrika Selatan menjadi negara yang anti rases dan imperialis.

Mayoritas rakyat Afrika Selatan berserikat, mulai dari pegawai pemerintahan sampai kelas pekerja. Bahkan para polisi dan tentaranya juga berserikat. Saya sempat berfoto dengan para polisi yang berserikat itu. Mereka bertanya bagaimana di Indonesia, apakah polisi berserikat? Saya jawab, kalau di Indonesia berbanding terbalik dengan Afrika. Polisi Indonesia tidak berserikat. Mereka lebih memilih menjadi antek para kapitalis karena lebih menguntungkan dari segi finansial. Mereka akan reaksioner kalau ada dari kalangan buruh atau mahàsiwa melakukan unjuk rasa untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Polisi itu hanya terseyum mendengar cerita saya tentang polisi indonesia.

Dengan berserikat, di Afrika Selatan antara rakyat, klas buruh, pegawai pemerintahan, polisi dan tentara menjadi satu kekuatan yang luar biasa dalam kebersamaan. Seperti saat ini, Afrika Selatan di bawah pemerintahan presiden ZUMA, mereka bersatu-padu mampu menyelenggarakan hajatan buruh sedunia kongres ke 17 World Federation of Trade Union (WFTU).

Dengan persatuan di komando Congress of South African Union (COSATU)  mampu mengakomodasi delegasi sedunia yang revolusioner. Bahkan presiden ZUMA-pun hadir berbaur dengan para peserta kongres dan anggota serkat yang tergabung dengan COSATU.

Salut buat comered Afrika atas persatuanya. Hanya satu pertanyaan saya, kapan Indonesia ada persatuan kelas seperti Afrika, menuju masyarakat yang sosialis dan berkeadilan?

Salam Muda Berani Militan

Jayalah KASBI
Sejahterahlah Buruh dan Rakyat Indonesia
Salam dari Afrika!

Oleh: Anwar Sanusi

Thursday, 6 October 2016

Sekjen KASBI Menyampaikan Pidato Politik Dihadapan 1200 Peserta Kongres WFTU di Afrika Selatan

Sekjen KASBI menyampaikan pidato di hadapan peserta kongres WFTU di Afrika Selatan
Sunarno, Sekjend KASBI berpidato di hadapan peserta Kongres ke - 17 WFTU
Kongres ke-7 World Federation of Trade Union (WFTU) atau Gabungan Serikat Buruh Sedunia resmi digelar di Durban, Afrika Selatan. Kongres kali ini mengusung tema “FORWARD! FOR THE ATTAINMENT OF THE CONTEMPORARY NEEDS OF THE WORKING CLASS AND THE EMANCIPATION OF WORKERS AGAINST POVERTY AND WARS GENERATED BY THE CAPITALIST BARBARITY” (Terjemahan bebas: Lanjutkan! Untuk Mencapai Kebutuhan Kelas Buruh Yang Kontemporer Dan Kesetaraan Kaum Buruh Melawan Kemiskinan Dan Peperangan Yang Diciptakan Oleh Kebiadaban Kapitalis).

Turut hadir sejumlah delegasi dari Konfederasi Kongres Aliasnsi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). KASBI mendapat sambutan yang hangat dari Congress of South African Trade Union (COSATU), salah satu serikat buruh di Afrika Selatan dan sekaligus sebagai tuan rumah pada kongres WFTU kali ini.

Sunarno, Sekretaris Jenderal Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) didampingi oleh Simon, S.H, Koordinator Departemen Hubungan Internasional KASBI menyampaikan pidato politik di hadapan 1200 Peserta kongres yang terdiri dari 111 negara di 5 benua.

Berikut pidato pilitik Sekjen Kasbi:

Kawan-kawan seperjuangan,

Pertama-tama, perkenalkan saya Sunarno sebagai Sekretaris Jenderal Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Indonesia (Konfederasi KASBI) mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan semua atas waktu dan kesempatan menyampaikan pesan solidaritas dari organisasi kami KASBI dalam forum resmi sidang umum Kongres WFTU.

Adalah suatu kehormatan bagi kami untuk berpartisipasi dalam Kongres ke 17 WFTU di Durban - Afrika Selatan. Kami juga menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada kawan-kawan tuan rumah sebagai panitia Kongres WFTU Afrika Selatan, yaitu Serikat Buruh COSATU dan serikat buruh afiliasinya, kawan kawan menyambut dengan heroik dan menerima kami dengan  hangat.

Dalam momen yang sangat berharga dan penting ini, kami, Konfederasi KASBI sebagai serikat buruh yang bewatak progresif, militan, internasionalis dengan lebih dari 138.000 anggota di Indonesia, ingin menekankan komitmen kami untuk membangun gerakan penyatuan serikat buruh internasional yang kuat, militan dan berorientasi pada kelas buruh dalam pertarungan melawan sistem kapitalisme dan imperialisme yang semakin menyengsarakan rakyat kecil, kaum buruh, tani, dan masyarakat miskin lainya.

Dalam momen yang sangat mulia ini, Konfederasi KASBI ingin menekankan komitmen kami untuk membangun hubungan yang kuat dan kerjasama dengan semua kawan-kawan anggota WFTU di seluruh dunia. Konfederasi KASBI menyadari bahwa di bawah penindasan kapitalisme dan imperialisme, maka semua kaum buruh di setiap negara harus bersatu padu dalam membangun gerakan buruh yang kuat untuk melawan sistem kapitalisme dan imperialisme tersebut.

Kawan kawan pimpinan serikat buruh anggota WFTU yang kami hormati... 

Dalam banyak aspek, situasi di Indonesia tidak memiliki banyak perbedaan dengan negara negara lain. Pemerintah Indonesia dengan agenda neo-liberalnya telah gagal untuk memberikan kemakmuran dan kebebasan bagi seluruh rakyat. Indonesia dengan kekayaan tanah air dan sember daya alam yang melimpah telah di gadaikan kepada kaum kapitalis dan di jarah oleh para eli elit penguasa. Dengan sistem kapitalis dan agenda neoliberal, kemiskinan dan penindasan semakin  dalam menancapkan kukunya di Indonesia. Kebijakan tenaga kerja murah telah membuat kemenangan delapan jam sehari tidak memiliki arti lagi karena pekerja dipaksa bekerja lembur untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Semua kebutuhan dasar menjadi semakin mahal dan tidak terjangkau bagi buruh dan rakyat. Situasi ini muncul sebagai konsekuensi dari kebijakan pemerintah yang berorientasi ke pasar dan menghamba kepentingan kapitalis. Kami percaya bahwa situasi yang sama juga terjadi di banyak negara. Tidak akan ada kemakmuran dan kebebasan bagi orang di bawah kapitalisme dan neo-liberalisme.

Oleh karena itu dalam Kongres KASBI yang ke 4 di tahun 2015 yang lalu, Konfederasi KASBI telah menegaskankan komitmen kami untuk melawan kapitalisme dan sekaligus menurunkan prinsip prinsip perjuangan yang terangkum dalam 10 tuntutan atau program perjuangan dalam memerangi neo-liberalisme. 

Ini 10 tuntutan atau program perjuangan dalam akronim Indonesia menjadi SEPULTURA (Sepuluh Tuntutan Buruh dan Rakyat).adalah sebagai berikut :
  1. Hapuskan Sistem kerja Kontrak dan Sistem outsourcing
  2. Tolak Kebijakan Murah Buruh! Terapkan Upah Layak Nasional!
  3. Tolak PHK, Union-Busting dan Kriminalisasi Buruh!
  4. Laksanakan Hak Buruh Perempuan dan Lindungi Buruh Migran Indonesia!
  5. Adili dan penjarakan Pengusaha Nakal!
  6. Berlakukan Jaminan dan  Perlindungan Sosial, BUKAN Asuransi Sosial!
  7. Tanah dan Sumber Daya Alam untuk kesejahteraan Rakyat!
  8. Lawan Privatisasi! Bangun Industri Nasional dibawah kontrol Rakyat
  9. Pendidikan dan Layanan Kesehatan Gratis untuk Semua Orang!
  10. Turunkan Harga Kebutuhan Dasar Rakyat (sembako).
Akhirnya, kami ingin memberi hormat dan menyapa semua kawan-kawan anggota WFTU dan berharap Kongres ke-17 ini, kedepan WFTU akan menjadi tempat kesatuan bagi semua orang yang tertindas di dunia dalam perjuangan melawan sistem kapitalisme dan imperialisme. Kami percaya bahwa dalam gerakan buruh yang kuat dan militan seperti yang ditunjukkan oleh WFTU selama bertahun-tahun, maka kemenangan kelas pekerja akan dicapai.

Demikian kami sampaikan!

Salam hangat dari kami anggota Konfederasi KASBI di seluruh Tanah Air Indonesia.

KASBI: MUDA BERANI MILITAN!

LONG LIVE WFTU!
Hidup Buruh!

KASBI adalah salah satu serikat buruh tingkat nasional yang ada di Indonesia dan saat ini merupakan satu-satunya serikat buruh yang berafiliasi dengan WFTU. KASBI adalah serikat buruh kedua setelah Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), salah satu federasi serikat buruh di Indonesia di jaman pemerintahan Soekarno yang pernah berafiliasi dengan WFTU. 

Sunar menuturkan, meskipun KASBI masih relatif baru sebagai anggota WFTU, tetapi kawan kawan COSATU dan perwakilan buruh dari negara negara lain sangat heroik dan riuh ketika melihat KASBI sebagai perwakilan buruh Indonesia dapat mengikuti kongres WFTU yang ke 17. "Ini adalah suatu kehormatan bagi KASBI dapat turut serta mengikuti kongres WFTU untuk pertamakalinya," lanjut Sunar.
Presiden Afrika Selatan Jacob Gedleyihlekisa Zuma menyampaikan pidato pada Kongres ke-17 WFTU
Presiden Afrika Selatan Jacob Gedleyihlekisa Zuma menyampaikan pidato pada Kongres ke-17 WFTU


Kongres ketujuh WFTU akan membahas laporan Kegiatan WFTU dari 2011-2016, laporan keuangan, rencana aksi 2016-2020 dan pemilihan pimpinan WFTU. Kongres dibuka sejak kemarin, tanggal 5 Oktober 2016 dan akan berlangsung hingga tanggal 8 Oktober 2016. Tampak pula dihari pertama, Presiden Afrika Selatan Jacob Gedleyihlekisa Zuma hadir dan turut menyampaikan pidato di hadapan peserta kongres. (iebe)