“Aku malas belajar loh kak, aku mau main!” ujar bocah yang hari ini punya jadwal belajar dengan saya dengan nada bergetar menahan tangis.
Ini adalah gambaran dari salah satu siswa kelas 3 SD di sebuah sekolah “mahal” di salah satu kota di negeri ini Selama dua bulan terakhir, ia belajar privat dengan saya empat hari dalam seminggu. Dan selama dua bulan itu saya berusaha membuat ia senang belajar karena ia sangat benci belajar.
Itulah salah satu gambaran siswa di negeri ini. Belum lagi, fakta ada kurang lebih 630 ribu sarjana lulusan S1 yang menganggur. Para sarjana itu merupakan alumni dari berbagai kampus yang ada di Indonesia. Miris memang, namun inilah potret pendidikan kita yang fokus pada hasil (jumlah) dari pada kualitas (prestasi) sehingga ada begitu banyak alumni (sudah tamat kuliah) namun ternyata belum lulus (siap) berkarya di negeri ini.
Kondisi alumni ini, tentu terjadi akibat dari sistem pendidikan yang ada. Setidaknya ada tiga alasan yang kita lihat dari sistem pendidikan di negeri ini.
Pertama, pendidikan di negeri ini cenderung memaksa. Hal sangat terlihat dimasa saya SD pada tahun 90an, pada masa itu hampir semua guru mata pelajaran menekankan agar menghapal materi. Mulai dari matematika hingga olahraga. Kebanyakan sekolah seperti rumah hapalan.


