Nasihatku

Mendengar Dan Memahami, Kunci Dalam Komunikasi

Kamu bisa menunjukkan kamu peduli hanya dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan tanpa memberikan nasehat

Undang-undang PPHI Jurang Bagi Kaum Buruh

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 dan undang-undang No. 2 Tahun 2004 sebagai buah kompromi politik di parlemen sudah pasti saran juga dengan kepentingan politik

Rentenir, Setan Kapitalisme Di Pabrik

Kaum buruh adalah mangsa empuk bagi lintah darat. Upah yang minim dan kebutuhan hidup yang tidak sebanding dengan besaran upah menyebabkan banyak buruh pada akhirnya dengan terpaksa menyerahkan batang lehernya kepada lintah darat

Mengetahui Hak-Hak Normatif Buruh

Hak normatif buruh adalah hak dasar buruh dalam hubungan kerja yang dilindungi dan dijamin dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku

Gerakan Buruh Adalah Perjuangan sejati Menuju Perubahan

Saat ini hanya serikat buruh sejatilah yang tetap konsisten dalam berjuang melawan ketidakadilan. Janji-janji busuk dan kebijakan-kebijakan populis tak mampu membeli idealisme kaum buruh

Showing posts with label Nasihatku. Show all posts
Showing posts with label Nasihatku. Show all posts

Tuesday, 26 March 2019

Mendengar Dan Memahami, Kunci Dalam Komunikasi

Kunci Dalam Komunikasi

Mengapa sih kebiasaan ini merupakan kunci komunikasi? Karena, kebutuhan paling dalam dari hati manusia adalah dipahami. Semua orang ingin dihormati dan dihargai apa adanya – individu yang unik, yang Cuma satu-satunya, yang tidak mungkin dikloning (setidaknya untuk sekarang ini).

Orang takkan mengungkapkan isi hatinya kecuali merasakan kasih serta pengertian yang tulus. Tetapi begitu mereka merasakannya mereka akan menceritakan lebih dari yang mungkin ingin kamu dengar. Kisah berikutnya tentang seorang cewek yang mengidap kelainan makan menunjukkan kuasa pengertian:

Saya sudah lama menderita kelainan makanan ketika ketemu sama Juni, Dera dan Novi, rekan-rekan satu kamar di kampus. Selama dua tahun terakhir saya telah berkonsentrasi untuk berolah raga, dan merayakan setiap ons berat badan yang berkurang. Di usia delapan belas dengan tinggi 175 sentimeter, berat badan saya cuma 45 kilo gram, tulang belulang yang jangkung.

Saya tidak punya banyak teman. Terus-terusan menderita kelainan makan itu membuat saya cepat tersinggung, pendendam, dan begitu letihnya sampai-sampai ngobrol santai pun tidak bisa. Acara-acara sosial sekolah sih tidak mungkin deh. Rasanya, tak ada deh kesamaan saya dengan anak-anak lain yang saya kenal. Ada beberapa teman setia yang sungguh tahan sama dengan saya dan berusaha menolong, tetapi saya tidak mau mendengarkan kuliah mereka tentang badan saya dan mengatai mereka cemburu.

Orang tua saya menyogok saya dengan lemari pakaian baru. Mereka menuntut saya agar saya makan di depan mereka, kalau saya tidak mau, mereka seret saya ke berbagai dokter, ahli terapi, dan spesialis. Saya sengsara dan ddan yakin seluruh hidup saya akan menderita seperti itu.

Lalu saya pindah kuliah. saat itulah saya jadi sekamar dengan Juni, Dera, dan Novi, tiga cewek yang membuat hidup saya layak dijalani lagi.

Kami tinggal di apartemen mungil, di mana semua pola makan serta olahraga saya yang aneh adalah di udara terbuka. Saya tahu pasti mereka menganggap saya aneh. Kalau liat foto saya ketika berusia delapan belas tahun, saya ngeri sendiri jadinya.

Tetapi mereka tidak memperlakukan saya seperti orang bermasalah. Mereka tidak menguliahi saya, tidak memaksa saya makan, tidak bergosip, tidak adu kuat. Saya hampir tidak tahu harus berbuat apa.

Dengarkanlah Dulu, Baru Bicara

Belajar Mendengar

Katakanlah kamu masuk toko sepatu dan ingin membeli sepatu baru. Penjaga toko bertanya, "Sepatu apa yang kamu cari?"

"Saya cari sepatu yang..."
"Saya tahu deh yang kamu cari," modelnya. "Semua orang pakai yang ini nih. Percaya deh."

Buru-buru ia mengambil sepasang sepatu yang paling jelek yang pernah kamu lihat. "Coba nih lihat,” katanya.

"Saya tidak suka ah,”

"Semua orang suka kok. Ini yang paling laku sekarang ini.”

"Saya cari yang lain ah.”

"Saya janji deh kamu pasti suka.”

Tetapi saya...."

"Begini. Saya kan sudah sepuluh tahun jualan sepatu dan saya tahu sepatu yang bagus hanya dengan sekali lihat.”

Setelah pengalaman tersebut, apa kamu mau kasuk ke toko itu lagi? Pasti tidak kan. Mana mungkin kamu percaya orang yang memberimu solusi sebelum memahami apa kebutuhanmu. Tetapi tahu tidak, bahwa kita pun sering begitu kalau berkomunikasi?

"Hei Melissa, apa kabar? Kamu kok kelihatannya depresi sih. Ada masalah?"

"Kamu gak bakal ngerti deh, Colleen. Pasti kamu menganggapnya tolol.”

"Enggak deh. Cerita dong. Aku dengerin deh.”

"Ah, nggak tau deh."

"Ayolah. Ceritalah.”

"Ya deh... em ... aku sama Boy udah nggak seperti dulu lagi.”

Friday, 25 August 2017

Mengenali Dan Mengatasi Masalah Dalam Organisasi

Mengenali Dan Menyelesaikan Masalah Dalam Organisasi
Organisasi yang maju bukanlah organisasi yang tanpa kesalahan, tetapi organisasi yang mau mengoreksi kesalahan-kesalahannya dan tidak mengulangi kesalahan serupa.

Mengenali Masalah


Seorang kawan menyatakan “ada api harus cepat dipadamkan, kalau tidak bisa kebakaran kemana-mana”. Tetapi pada kenyataannya, saat memadamkan api, api tersebut malah merembet kemana-mana. Setelah diteliti, ternyata kawan tadi tidak melihat, apa penyebab kebakaran, bahan-bahan apa yang terbakar dan hubungan dengan sekitarnya seperti apa, namun asal menyiram dengan air dan kelihatan padam. Dan kenyataannya bahan-bahan yang terbakar adalah kapas-kapas yang tertutup oleh tumpukan jerami dan kayu. Api seolah padam, tetapi baranya masih menyala kemana-mana.

Cerita tersebut diatas adalah menunjukkan bahwa ketika ada persoalan, kita tidak bisa asal “selesai” dengan buru-buru. Semua permasalahan harus diteliti sebab musababnya, para pihak yang bermasalah, ruang lingkup masalah, pendapat masing-masing akan masalah, jenis masalah dan dampak yang akan terjadi dari masalah tersebut. Barulah bila memenuhi syarat masalah tersebut diselesaikan sesuai dengan ruang lingkup, tingkat kepentingan dan bobotnya.

Secara umum masalah selalu ada dimana-mana, kapanpun, terus menerus berawal dan berakhir. termasuk didalam diri kita sendiri. Pertentangan pikiran antara terus bejuang dengan segala resiko dengan menjadi penjilat atau hidup biasa-biasa aja adalah contoh pertentangan atau problem dalam diri sendiri yang harus diselesaikan.

Problem atau masalah ada dimana mana dan memiliki kekhususan-kekhususan dalam masalah tersebut, tidak bisa disamakan begitu saja. Yang juga harus dipahami adalah bahwa Dalam satu keadaan obyektif bisa lebih dari satu masalah muncul, bisa dua atau tiga bahkan lebih.

Maka mengenali jenis masalah, sebab masalah, para pihak yang terlibat dalam masalah, ruang dan waktu, dampak/efeknya  menjadi penting. Ini akan menjadi dasar menyelesaikan masalah tersebut, tidak asal-asalan atau mendasarkan kebiasaan.

Dasar dalam melihat masalah ini adalah berpikir obyektif dan dialektis. Keadaan dan masalah adalah obyektif, jenis masalah bisa dilihat dari sebab dan“kepentingan”nya. Dari sebab masalah, kepentingannya serta para pihak yang bermasalah, maka kita bisa mengarahkan penyelesaikan masalah menjadi kualitas baru. Kita bisa mengambil prioritas penyelesaian, tawaran penyelesaian dan “cara” penyelesaian.